PejuangKantoran.com - Sekelompok 40 biksu dari Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia berhasil menyelesaikan ziarah Thudong di Candi Borobudur, Senin (20/5/2024) lalu, sebagai penghormatan spiritual menjelang Hari Raya Waisak 2568 BE (Buddhist Era).
Para biksu menyelesaikan perjalanan sepanjang 60 kilometer sepanjang rute dari Candi Buddha Jayanti Wungkal Kasap di Semarang hingga Kompleks Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.
Thudong adalah ritual yang dilakukan oleh Bhantes (biarawan Buddha) di mana mereka berjalan jauh (terkadang hingga 1.000 kilometer) untuk meniru Sang Buddha.
Baca Juga: Di Lumbini, Nepal, Peziarah Merayakan Waisak dengan Mengikuti Jejak Masa Kecil Sang Buddha
Thudong tahun ini mengambil tema “Perjalanan dengan Kesadaran akan Keberagaman untuk Jalan Hidup yang Terhormat, Harmonis dan Bahagia”, untuk menyambut Hari Raya Waisak yang jatuh pada hari Kamis, 23 Mei 2024.
Kuil Buddha terbesar di dunia
Walaupun mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam, namun Indonesia memiliki kompleks kuil Buddha terbesar di dunia, yaitu Candi Borobudur.
Candi ini dibangun sekitar tahun 780-840 M pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Karena kemegahannya, Borobudur menjadi salah satu situs arkeologi terbesar di Asia Tenggara dan sejajar dengan Bagan di Myanmar (Burma) dan Angkor Wat di Kamboja.
Oleh karena itu, setiap tahun candi yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991 itu didatangi para peziarah dari Asia Tenggara untuk memperingati Hari Raya Waisak.
Waisak sendiri memperingati tiga peristiwa terpenting dalam kehidupan Siddharta Gautama yang dikenal dengan Tri Suci Waisak.
Baca Juga: 10 Kata Kunci yang Tidak Berguna Lagi di Profil LinkedIn dan Sebaiknya Diganti Saja
Peristiwa penting pertama adalah kelahiran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM. Kedua, peristiw pencerahan (nirvāṇa) di mana Siddharta menjadi Buddha di Bodhgaya pada usia 35 tahun pada tahun 588 SM.
Peristiwa ketiga adalah wafatnya (Parinirvāna) Buddha Gautama di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 SM.
Faktanya, peziarah sudah datang ke Borobudur selama ratusan tahun, terlihat dari koin dan keramik Tiongkok yang ditemukan di sana, yang menunjukkan bahwa peziarahan tersebut sudah terjadi hingga abad ke-15.
Pendakian candi seluas 2.500 meter persegi dan tinggi 35,40 meter tersebut sudah menjadi ziarah tersendiri, karena menuntut fisik dan spiritual sesuai dengan ajaran Buddha Mahayana.
Artikel Terkait
Survei Kebahagiaan: 1 dari 4 Gen Z Ternyata Paling Takut Kalau Tidak Punya Pasangan
Pencinta Game yang Mau Kerja di Jepang, Ada Lowongan Kerja di Perusahaan Nintendo Switch
Seleksi CASN 2024 Dibuka Juni, Menpan-RB: "Jangan Percaya pada yang Menjanjikan Kelulusan"
Sama-sama Pakai Batik di Bali, Ini Makna Motif Batik yang Dipakai Prabowo dan Elon Musk
Tren TikTok "Spaving" Bukan Trik Menghemat Uang yang Bisa Dipraktikkan secara Efektif?
3 Bagian Tubuh yang Sering Di-Skip saat Mandi, Jorok!
Sinopsis How To Make Millions Before Grandma Dies: Family is Calling!