PejuangKantoran.com - Diramu oleh sutradara Adriano Rudiman, Selepas Tahlil menjadi film horor yang mencekam sekaligus artistik secara visual.
Sebelum dipercaya untuk menyutradarai film produksi Bion Studios tersebut, sutradara yang akrab dipanggil dengan nama Dio ini banyak mengerjakan proyek film sebagai art director.
Itu sebabnya rasa mencekam dibangun melalui pengambilan gambar para karakter secara close up, sedangkan sentuhan artistik dinikmati melalui penggunaan CGI (Computer-Generated Imagery), atau efek di beberapa adegan.
Baca Juga: Kamu Terlihat Selalu Sibuk Namun Tak Ada yang Selesai? Coba Belajar 2 Keterampilan Ini!
Dalam pengerjaan film panjang pertamanya ini, Dio menjelaskan bahwa ia banyak kolab bareng departemen lain dalam film.
“Sebagai sutradara, aku percaya kalau bikin film itu kita berkolaborasi. Ada banyak insight selama proses yang bisa kita serap dari cast dan yang lainnya,” ujar Dio, saat pemutaran perdana Selepas Tahlil di Epicentrum XXI, Jakarta, Minggu (06/07/2025).
Beberapa hasil kolaborasinya yang ia dapat dari hasil diskusi atau masukan insight dari pihak luar adalah soal pendekatannya dalam membangun rasa mencekam dengan banyak menghadirkan adegan-adegan close up.
“Pengambilan gambar close up itu hasil kolaborasi aku bersama Taufan Adryan. Sebagai produser, ia juga ngurusin kreatif. Gambar close up hingga mata yang terbelah-belah itu hasil brainstorming dengan dia.
"Close up juga secara bahasa visual, yang kita coba tata di sini, semakin dekat, kita akan semakin intens dengan karakternya!” tambahnya.
Contoh lain di mana ia juga dapat dari luar adalah adegan yang memperlihatkan tokoh Saras (Aghniny Haque) terjebak dalam satu tempat yang sama berulang kali.
Baca Juga: Masih Bingung Membuat Estimasi Waktu saat Mengerjakan Proyek? Coba Ikuti 7 Langkah Ini!
“Ide adegan looping itu hasil ngobrol dengan Monji (Husein M. Atmodjo/penulis skenario). Aku berusaha memvisualisasikan dengan sebaik mungkin!” kata Dio.
Terbuka akan berbagai macam kolaborasi ini baginya sudah diterapkan sejak bekerja sebagai art director.
“Ketika menjadi art director, aku dituntut menyediakan sesuatu tapi juga memberikan ide. Dan, dari pengalaman itu, aku berusaha mengaplikasikannya ketika berada di posisi sutradara.
"Sutradara itu harus make a call, punya visi tapi at the same time, harus memberi ruang untuk ide,” seru sutradara yang sebelumnya banyak menggarap film-film pendek ini.
Artikel Terkait
Padel Kena Pajak Hiburan 10 Persen, Pramono Anung: 'Kan Pemainnya Rata-rata Orang Mampu'
7 Gangguan di Tempat Kerja yang Bisa Menurunkan Produktivitas, Salah Satunya Sibuk Balas Whatsapp
Analis Kompak Rekomendasikan Investor untuk Beli Saham BBRI, Bukti Adanya Market Trust Yang Fundamental
Bukan Asal Tebak, Ini 6 Faktor Penting saat Menentukan Estimasi Waktu untuk Pengerjaan Proyek
ESDM Tunjuk Pertamina Jalankan Kebijakan LPG Satu Harga Mulai 2026
Bukan Cuma Keterampilan Diri, CV Kamu Juga Harus Rutin Di-Upgrade. Mengapa?
Lewat Program BRI, Couplepreneur Craftote Sukses Ekspor Kerajinan Lokal ke Asia dan Amerika