PejuangKantoran.com - Cerita film Dia Bukan Ibu diadaptasi dari thread viral JeroPoint di X, yang pada 2023 yang telah mendapat lebih dari 5,8 views. Thread juga mendapat 44 ribu likes, 13 ribu retweet, dan seribu lebih komentar.
Melihat kepopuleran cerita ini, produser Amrit Punjabi ingin menghadirkan film horor yang tidak hanya menonjolkan jumpscare atau muncratan darah. Ia merasa perlu untuk menghadirkan film horor yang berani mengeksplorasi agar menjadi suatu suguhan yang berbeda.
Untuk menghadirkan horor yang berbeda, ia bekerja sama dengan sutradara Randolph Zaini. Mereka mencoba menggali ide-ide segar yang bisa diterapkan ke dalam film.
Baca Juga: Kemkomdigi Jelaskan Alasan Pemutaran Video Presiden Prabowo di Bioskop
“Kita ngobrol sampai berjam-jam. Setiap script meeting, kita bisa sampai berjam-jam karena kita coba mengeksplorasi apa yang bisa dibuat berbeda lagi, bisa meng-elevate film” ujar Amrit, saat pemutaran perdana Dia Bukan Ibu di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (12/09/2025).
"Bagaimana cerita adaptasi di-approach dengan pendekatan yang berbeda-beda. Tapi, yang penting, fokus tetap pada cerita sehingga nggak sekadar horor tapi jadi film yang membuat penonton emosional dan merasakan sesuatu yang berbeda," ujarnya.
Dia Bukan Ibu menceritakan gadis remaja bernama Vira (Aurora Ribero), yang menyaksikan perubahan janggal pada ibunya. Setelah ditinggal sang suami, ibu Vira, yaitu Yanti (Artika Sari Devi) mengajak dirinya dan adik, Dino (Ali Fikry) pindah ke perumahan yang sepi dan penuh rumah kosong.
Di situ, sang ibu membuka usaha salon. Kejanggalan mulai terasa ketika salon ibunya ramai, padahal lokasinya terletak di kompleks perumahan yang terbengkalai.
Ibunya yang depresi sejak ditinggalkan oleh suami mendadak ceria dan ramah. Keanehan pada ibunya semakin menjadi-jadi, bahkan mulai melukai pelanggan salon hingga menyerang Dino.
Situasinya semakin aneh ketika Yanti selalu kembali bersikap normal keesokan harinya. Vira kerap mendapati sosok jin yang menyerupai ibunya di rumah. Kecurigaan ini membuat dirinya bertekad mengungkap misteri di balik ibunya yang sesungguhnya.
Baca Juga: Zenith Partners Buka Lowongan Kerja Growth Associate, Hunter yang Aktif Mencari Prospek Baru
“Kita ingin membuat film yang really fun, really pushing the envelope sekaligus ngetes seberapa jauh kita bisa bereksperimen terhadap the scare and the drama.
"Drama penting karena any genre is drama. Packaging-nya saja yang berbeda. Whether itu action, horror, atau comedy,” ujar Randolph.
Salah satu daya tarik dari film ini adalah banyaknya simbol yang dimasukkan ke dalam cerita. Sebut saja penggunaan kucing di berbagai aspek film, mulai dari adegan brutal antara kucing ibu dan anak yang membuat Vira kecil trauma.
Kemudian, perubahan mata ibu menjadi mata kucing sebagai penanda kejanggalan, hingga salah satu lagu tema film yang liriknya ditulis Randolph juga tentang kucing. Kucing dipilih karena lekat dengan konsep motherhood.
Artikel Terkait
Yudo Sadewa, Si “Bocah Trader” Anak Menteri Keuangan yang Kini Jadi Sorotan Publik
Tinggalkan Karirnya sebagai Menkeu, Sri Mulyani Nikmati Waktunya bersama Keluarga dan Bestie-nya
5 Kebijakan Baru BKN terkait Kenaikan Pangkat ASN, agar Karirnya Bisa Melaju Lebih Cepat!
Gen Z di Nepal Pilih Perdana Menteri Baru lewat Discord, Jadi Pemilu Digital Pertama di Dunia?
Tak Perlu Antre, Kartu Kedatangan Digital All Indonesia Bikin Proses Masuk RI Jadi Lebih Cepat!
Tips Sukses WHV Australia: Jangan Asal Kerja, Ini Strategi supaya Bisa Dapat Sponsorship
6 Strategi Melakukan Job Hugging Yang Sehat Supaya Kamu Tetap Kompetitif dan Waras