PejuangKantoran.com - Sepertinya tidak salah jika Festival Film Indonesia menjadikan film Budi Pekerti unggulan ke dalam 17 kategori nominasi.
Artinya, pelaku dalam semua lini produksi di film Budi Pekerti, termasuk aktor dan sutradara, dianggap layak berkompetisi dan memiliki kans untuk menjadi pemenang dalam 17 kategori Festival Film Indonesia.
Budi Pekerti memang menyuguhkan kualitas sinematik yang cantik dan menggugah. Di balik adegan-adegan indah ataupun penggunaan properti yang unik dalam film tersebut, ada cerita-cerita menarik yang berkesan bagi sang sutradara, Wregas Bhanuteja.
Baca Juga: Hari Vegan Dunia Diperingati Tiap 1 November, Apa Sih Beda Vegan dan Vegetarian?
“Ya, semiotika film, sumbernya tidak saya cari dari referensi pengetahuan tetapi dari pengalaman terdekat saya. Banyak memori yang saya ingat dari masa kecil di Yogyakarta yang saya masukkan ke dalam film.
“Jadi, semuanya saya bikin seperti homage (penghargaan),” ungkap Wregas Bhanuteja, saat pemutaran perdana film Budi Pekerti di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (30/10/2023).
Berikut beberapa semiotika yang dimasukkan secara brillian ke dalam film yang diharapkan bisa memberi letupan emosi pada penonton.
1. Hujan
Banyak adegan di film ini yang digambarkan terjadi dalam keadaan hujan. Ternyata, hujan memberi kenangan khusus bagi Wregas Bhanuteja secara pribadi, yang dalam film menjadi simbol dengan arti yang dalam.
“Yang saya ingat ketika kecil, saya dan ibu saya ambil rapor, kita naik becak hujan-hujan. Itu memori yang sangat dekat. Banyak memori masa kecil saya tentang hujan itu adalah dua ekstrim.
Baca Juga: Ketika Sepatu Kaesang Pangarep Bikin Salah Fokus alias Salfok
“Satu, yang sangat senang, teduh, bisa bernapas (mencium) bau tanah, enak banget! Tapi, di satu sisi, (hujan) itu isinya teror, krisis, panik! Nah, hujan yang sangat indah itu dari sisi Ibu Prani (Sha Ine Yulianti) digambarkan sebagai teror, krisis,” katanya.
Namun, hujan pada bagian akhir film adalah hujan penerimaan. Menurut Wregas, penerimaan itu terwujud dari ekspresi Ibu Prani.
“Kalau sebelumnya semua tegang, tapi di akhir saat Ibu Prani naik mobil, ia membuka jendelanya dan membiarkan percikan hujan itu masuk ke tubuhnya. Itu tanda dia sudah menerima apa yang terjadi dan siap untuk hidup baru!”
2. Dominasi kuning dan biru