Drama ini memiliki alur mundur (flashback). Cerita dibuka dengan sosok Soeraja tua yang telah menjadi pemilik pabrik rokok besar.
Dalam keadaan sakit Soeraja berulang-ulang meminta putra bungsunya, Lebas (Arya Saloka) untuk mencari keberadaan Jeng Yah.
Permintaan ayahnya itu membawa Lebas ke kota M, terbang ke masa lalu ayahnya. Ia menemukan banyak fakta mengejutkan, termasuk konflik akibat pemberontakan G 30 S PKI yang menyebabkan kerusakan dalam banyak hal.
Baca Juga: Yenny Wahid Ingatkan Pesan Rasulullah untuk Memilih Pemimpin dari Hati seperti Ganjar-Mahfud
Dian Sastro dalam drama ini sungguh menunjukkan bahwa ia memang aktris terbaik dari generasinya. Gerak tubuh, tatapan mata, dan suaranya, menggambarkan sosok Jeng Yah yang tenang, disiplin, akurat, dan terkesan dingin.
Dalam drama kali ini pun Dian Sastro menunjukkan sisi lain dirinya melalui adegan ciuman yang cukup panas untuk ukuran film Indonesia.
Juga keluwesannya mengisap rokok kretek, suatu hal yang sering dilakukan Jeng Yah untuk membandingkan kualitas rasa rokok kretek merek satu dengan yang lain.
Selain Dian, tentu kita tak bisa mengabaikan Ine Febriyanti, aktris teater yang sudah teruji; Ario Bayu dengan karakternya yang kuat sebagai Soeraja; Putri Marino sebagai Arum, gadis Jawa yang ditemukan Lebas dalam proses pencarian Jeng Yah.
Gadis Kretek layak dipuji sebagai tontonan dengan alur yang tidak membosankan, dan sinematografi yang menawan.
Setiap detail dari adegan-adegannya sukses membawa kita ke masa lalu. Masa ketika perempuan Indonesia banyak yang masih berkebaya, dipandang rendah dan tak berharga.
Baca Juga: Pakar Hukum Tata Negara: Pelengseran Presiden Sudah Memenuhi Unsur Konstitusi
Banyak hal yang dianggap tabu, termasuk bahwa Dasiyah dilarang untuk bergabung meracik saus rokok, konon karena aroma perempuan dianggap akan merusak citarasa rokok kretek. Padahal, Dasiyah adalah peracik saus yang sangat berbakat.
Melalui drama ini kita jadi bersedih bahwa pada masa lalu, banyak bakat dan kecerdasan perempuan terbuang sia-sia akibat pandangan-pandangan yang menempatkan perempuan di posisi yang lebih rendah.
Padahal sosok perempuan yang digambarkan dalam diri Jeng Yah adalah tipikal perempuan dengan kekuatan karakter yang tak terbantahkan, terlihat juga dari keteguhan hatinya dalam mempertahankan cintanya kepada Soeraja.
Hal ini berbanding terbalik dengan karakter Soeraja yang dari luar tampak garang namun mudah terombang-ambing oleh pengaruh pihak lain (Soedjagad). (Raya Susetyo)