Jalan menuju Puncak, Bogor macet berjam-jam, bahkan sampai merengut nyawa satu wisatawan yang kelelahan dalam kemacetan tersebut.
Beberapa jalur pendakian gunung harus antre untuk menuju puncaknya atau turun dari puncaknya.
Tak bisa dipungkiri bahwa fenomena ‘semangat’ berwisata ini adalah dampak dari paska pandemi.
Baca Juga: Pilot Susi Air Sudah Dibebaskan, Intip Gaji Pilot Di Indonesia Per Bulan
Saat pandemi kurun 2020 hingga 2022, semua menahan diri untuk tidak keluar rumah. Jangankan berwisata, pergi ke minimarket depan komplek rumah pun sebisa mungkin dihindari.
Oleh karena itu, ibarat burung yang dilepas dari sangkarnya, ketika status pandemi ditutup, maka wisatawan-wisatawan ini ‘beterbangan’ menuju destinasi-destinasi tertentu.
Apalagi dengan ‘kompor’ dari media sosial, terutama media sosial yang kuat di visual seperti Youtube, Instagram, dan Tik Tok.
Solusinya Mengurangi Potensi Overtourism
Kemudian timbul pro-kontra.
Yang pro kurang lebih menyebutkan, “Bukankah dengan ‘comeback’-nya wisatawan itu akan menggairahkan kembali salah satu pendapatan nasional ini.” Apalagi Indonesia adalah ‘hypermarket’ wisata di kawasan khatulistiwa.
Baca Juga: Demon Slayer Memimpin Peringkat Anime Terpopuler 2024
Sementara yang kontra, akan menyampaikan bahwa overtourism sudah mengganggu kenyaman. Seperti yang disampaikan dalam laman nationalgeographic.com.
Kenyamanan wisatawan sendiri menjadi terganggu. Antrean panjang dan lokasi wisata yang penuh. Kemacetan di sekitar dan menuju area wisata.
Ini tak hanya mengacaukan pengalaman yang diinginkan wisatawan gagal, namun juga bisa menyebabkan biaya lainnya menjadi membengkak.
Misal, kebutuhan makanan dan akomodasi meningkat sehingga mendorong harga yang naik.