Dari sisi lokasi wisatanya sendiri, ternyata juga bisa mengancam keberlangsungan Lokasi tersebut. Seperti catatan yang disampaikan dalam laman sustainabletravel.org.
Jumlah kunjungan yang berlebihan di sebuah tujuan wisata bisa menyebabkan rusaknya daya Tarik objek wisata tempat tersebut.
Misal, kunjungan wisatawan yang berelbihan di AngkoWat, Kamboja bisa menyebabkan jalanan batu yang kuno itu menjadi aus karena gesekan kaki pengunjung.
Baca Juga: PUMA Speedcat: Sneakers Favorit untuk Gaya Kantor yang Keren
Lalu solusinya apa? Ada solusinya, walaupun penerapannya tidak bisa sama antara satu wilayah dengan wilayah lain.
Overtourism sebenarnya lebih sering terjadi musiman. Saat libur libur panjang akhir pekan, saat liburan sekolah, saat liburan hari raya, dan sebagainya. Itu pun di tujuan-tujuan wisata tertentu.
Menurut nationalgeographic.com, mendorong dan mempromosikan lebih banyak lagi tujuan wisata saat off season (musim yang sepi), bisa menjadi solusinya.
Sementara di Indonesia, mendorong dan mempromosikan beberapa Lokasi wisata alternatif, seperti peluncuran Paket Wisata 3B, diharapkan juga bisa mengurangi potensi overtourism.
Artikel Terkait
7 Etika Liburan yang Harus Kamu Tahu dan Taati di Tempat Wisata: Jangan Sampai Malu-maluin!
Kembali ke Quality Tourism, Bali Terapkan Pajak Wisata pada Turis Asing Mulai Februari 2024
Daftar Lengkap Desa Wisata Terbaik di Dunia 2023 Versi UNWTO, Ada Indonesia Nggak Ya?
Liburan Enaknya Kemana? Ini Destinasi Wisata Seru yang Bisa Dikunjungi, Mumpung Masih Gajian
Menara Turyapada Setinggi 115 Meter di akan Segera Menjadi Tujuan Wisata Baru di Bali
Menparekraf Sandiaga Uno Luncurkan Paket Wisata 3B. Apa Yang Dijanjikan?