senggang

Tulang Belulang Tulang Angkat Cerita Tentang Harkat Diri Keluarga Melalui Balutan Tradisi Batak

Senin, 23 September 2024 | 22:24 WIB
Film Tulang Belulang Tulang mengangkat tradisi Batak Mangokal Holi atau pemindahan tulang belulang leluhur. (Adhya Pictures Pomp Films)

PejuangKantoran.com - Butuh waktu panjang sampai akhirnya film Tulang Belulang Tulang diproduksi oleh Adhya Pictures dan ditayangkan di seluruh bioskop.

Padahal cerita film drama roadtrip karya sutradara Sammaria Sari Simanjuntak ini merupakan hasil inkubasi dari program Indonesiana Film 2021 yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek.

“Awal tahun lalu, kita ketemu dengan tim program Indonesiana dan kita lihat secara skrip ini menarik sekali. Ada budaya yang kental atau tradisi yang diangkat sebagai cerita dasar.

Baca Juga: Pro dan Kontra Membajak Karyawan dari Perusahaan Kompetitor, Siapa Paling Diuntungkan?

“Kebetulan, Adhya sebagai perusahaan kita mulai dari Sumut, perusahaan daerah yang finally go national. Jadi, kita mengambil cerita ini sebagai sebuah homecoming buat kami.

“Tapi, di sisi lain, Tulang Belulang Tulang ini unik banget. Unsur tradisi kental tetapi tidak melupakan unsur kekeluargaannya sama sekali.

“Ini adalah spirit yang kita anggap important message yang perlu disampaikan,” ungkap Shierly Kosasih dari Adhya Pictures, saat konferensi pers Tulang Belulang Tulang di CGV Grand Indonesia, Kamis (19/9/2024).

Tradisi Batak yang diangkat dalam cerita Tulang Belulang Tulang adalah Mangokal Holi atau pemindahan tulang belulang leluhur.

Ceritanya bermula ketika keluarga Mama Laterina (Atiqah Hasiholan), anak perempuannya, Cian (Tasha Siahaan), serta seluruh keluarga road trip ke kampung kakek.

Mereka ingin melakukan Mangokal Holi, menguburkan tulang belulang di kampung sang kakek. Celakanya, koper berisi tulang belulang Tulang Tua atau Kakek Buyut (Landung Simatupang) hilang!

Baca Juga: Overtourism, Wisatawan Membludak Tak Selalu Menjadi Kabar Baik. Ini Dampak dan Solusinya.

Mereka pun harus segera menemukan tulang belulang tersebut kalau tidak mau dikutuk Opung/Nenek (Lina Marpaung) dan seluruh keluarga besar yang sudah menunggu di tepi Danau Toba.

Perjalanan mencari tulang memaksa Mami Late dan keluarga dalam satu petualangan yang banyak mengundang tawa sekaligus haru di bagian akhir film.

Perjalananan ini membuat setiap anggota keluarga Mami Late dan Papi Mondo (David Saragih) mempertanyakan kembali apa arti harga diri bagi keluarga.

“Tidak mudah membuat film berlatar etnis yang sangat kental. Proses membuat skripnya sangat panjang.

Halaman:

Tags

Terkini