Pernah ketemu orang yang langsung menutup hidung gara-gara mencium bau durian? Nah, mungkin dia termasuk orang dengan indera penciuman atau perasa yang supersensitif.
Mereka ini gampang overwhelmed sama aroma atau rasa yang terlalu kuat. Jadi, bukan berarti mereka sombong atau tidak merakyat, tapi karena indera mereka literally bekerja lebih keras.
Baca Juga: Marah di Tempat Kerja Tak Selalu Buruk Asal Kamu Bisa Mengelolanya Seperti Berikut Ini!
5. Mencari kenyamanan di tengah ketidakpastian
Traveling itu seru, tapi juga capek dan kadang bikin stres. Di tengah semua hal baru yang harus dihadapi, entah itu bahasa, budaya, atau jalanan, makanan yang familiar bisa jadi zona nyaman buat diri sendiri. Sesimpel makan nasi goreng di Amerika, biar berasa “kayak di rumah”.
6. Takut salah pilih
Kadang orang malah enggan mencoba kuliner lokal karena takut salah pilih. Kebayang nggak, di depan ada 50 macam makanan baru, lalu takut salah memilih yang "biasa aja" dan menyesal?
Akhirnya mereka malah memilih makanan yang sudah pasti aman. Ini namanya “paradox of choice”, di mana kebanyakan pilihan malah bikin kita "nggak berkembang".
7. Ada pantangan makanan
Biasanya ini disebabkan faktor kesehatan. Ada orang yang punya alergi, pantangan agama, atau pilihan diet tertentu. Hal itu membuat mereka nggak bisa makan sembarangan.
Jadi kalau ada teman yang tidak mau mencicipi seafood segar di Jepang, bisa saja karena dia alergi, bukan karena tidak menghargai kuliner setempat.
Baca Juga: Waspadai Jika Kamu Mengalami 7 Gejala Ini. Itu Artinya Kamu Butuh Coffee Break.
Nah, sekarang kita tahu kan, mengapa ada orang yang menolak makanan khas daerah saat traveling. Di balik keputusan pilih makan ayam goreng franchise, ada banyak alasan yang nggak selalu kelihatan. Dari mengkhawatirkan sesuatu yang nggak dikenal, butuh kontrol, sampai sekadar cari rasa nyaman di tempat asing.
Yang penting, setiap orang punya cara masing-masing buat menikmati perjalanan. Ada yang berburu street food ekstrem, ada yang nyaman sama makanan yang sudah familiar.
Karena pada akhirnya, traveling itu soal pengalaman pribadi. Tidak ada yang benar atau salah. Yang penting, kita semua pulang dengan cerita seru dan hati senang.