senggang

Cocote Tonggo: Bayu Skak Berbagi Trik Biar Nggak Baper saat Jadi Bahan Gunjingan Tetangga

Rabu, 14 Mei 2025 | 22:19 WIB
Mau tahu gaya Dennis Adishwara dan Ayushita berdialog dalam logat Jawa Mataraman dalam film Cocote Tonggo? (Instagram/@_film_bioskop_indonesia)

PejuangKantoran.com - Setelah sukses dengan Sekawan Limo, Bayu Skak merilis film Cocote Tonggo. Film ini mengangkat tema tentang tekanan sosial yang mengakibatkan efek yang buruk dalam sebuah lingkungan bertetangga.

Topik tentang bisik-bisik antartetangga ini dipilih sebagai sebuah sindiran halus akan apa yang masih sering terjadi di masyarakat. Bahkan di beberapa aspek, dialami sendiri oleh sutradara asal Malang ini.

“Hal yang relate untuk saya sendiri adalah karena saya ini orang yang selalu dibacotin, ‘Kapan nikah?’. Kalau di film ini, pertanyaannya lebih next level. Kapan punya anak?

Baca Juga: Mengapa Ada Orang yang Gampang Banget Meniru Logat Daerah Lain, tapi Ada Juga yang Nggak Bisa Sama Sekali?

"Harapannya nanti penonton bisa menerima intisari dari film ini. Sampai kapan pun kita hidup, yang namanya bacotan pasti akan selalu ada.

"Tapi bagaimana agar kita menangkapnya dan bisa hidup berdampingan dengan itu, dan tidak malah down,” ujar Bayu Skak, saat konferensi pers Cocote Tonggo di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, Jumat (09/05/2025).

Cocote Tonggo menceritakan tentang pasangan suami istri Luki (Dennis Adhiswara) dan Murni (Ayushita Nugraha) yang dikenal sebagai penjual jamu kesuburan. Meski usaha mereka berkaitan dengan kesuburan, ironisnya mereka belum dikaruniai anak.

Kondisi ini memicu gunjingan tetangga dan tekanan sosial dari lingkungan sekitar, terutama dari tetangga mereka yang bernama ibu Pur (Asri Welas).

“Kita hidup tentunya punya keinginan masing-masing. Ikutilah cita-cita sendiri. Jangan karena orang lain, ngomong A, B, C... kita coba entertain orang itu tetapi malah jadinya tidak mengikuti keinginan sendiri.

"Menjalani hidup seperti itu akan sulit dan sakit. Jangan melakukan sesuatu karena omongan orang lain. Itu nanti akan menciptakan generational trauma, trauma lintas generasi.

Baca Juga: Meski Menggunakan AI Tiap Hari, Ternyata Banyak Karyawan yang Tidak Percaya dengan Hasilnya

"Anak tidak memilih untuk dilahirkan di dunia. Orang tuanya yang memilih, bersepakat hingga akhirnya anaknya lahir. Anak ini harus diasuh dengan keinginan secara murni, jangan dibuat keruh sehingga meninggalkan trauma,” ujar Bayu.

Walaupun mengangkat tema yang cukup berat, Bayu mengaku tantangan terberat menggarap film ini justru pada penggunaan bahasa yang ada di film ini.

Tidak seperti film-film sebelumnya yang banyak menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran, film berdurasi 105 menit ini malah menggunakan logat dan dialek dari bahasa Jawa Mataraman. 

“Ini upaya saya untuk berkarya agar ke depannya lagi bisa keluar dari zona nyaman. Di karya sebelumnya, saya menggunakan bahasa Jawa Timuran.

Halaman:

Tags

Terkini