Sekeliling museum terdapat kolam pantul yang merefleksikan cahaya bulan yang berubah-ubah, melambangkan introspeksi dan pembaruan.
Museum ini dirancang oleh Mitsubishi Jisho Design dengan detail yang mencerminkan perpaduan harmonis antara kreativitas modern dan kearifan tradisional Bali.
Baca Juga: Afghanistan Resmi Larang Permainan Catur, Lho Kenapa?
Salah satu fokus utama museum ini adalah penghormatan terhadap Kalender Saka Bali, kalender tradisional yang digunakan bersamaan dengan kalender Pawukon.
Kalender Saka memiliki siklus 210 hari yang mengikuti pergerakan bulan dan memegang peranan vital dalam berbagai ritual dan tradisi di Bali.
Pameran Kasanga dan Subak
Pameran Kasanga menjadi salah satu sorotan utama di museum saat ini. Kasanga merujuk pada bulan kesembilan dalam kalender Saka yang dianggap sebagai waktu transformasi dan pembaharuan yang mendalam.
Bulan ini bertepatan dengan bulan Maret dalam kalender Masehi dan mencakup Hari Raya Nyepi. Selain itu, pameran “Subak: The Ancient Order of Bali” memperkenalkan Subak sebagai sistem irigasi kuno Bali yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Subak bukan hanya soal pengairan sawah, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Baca Juga: Jojo dan Chico Resmi Keluar dari Pelatnas PBSI, Ucapan Perpisahannya Bikin Haru
Untuk mengunjungi Museum Saka, kamu bisa memiliki tiket dengan harga mulai Rp200.000 untuk dewasa, dan Rp100.000 untuk anak-anak. Jam operasional setiap hari mulai pukul 10.00 - 18.00, mencakup akses ke seluruh pameran yang tersedia.
Museum Saka kini menjadi destinasi penting yang menyajikan pengalaman budaya Bali secara mendalam. Siapapun pasti ingin melihat keindahan arsitektur yang membuatnya terpilih sebagai Museum Terindah di Dunia.