9 Penyebab Umum Terjadinya Salah Tafsir Atau Misintepretation di Kantor Yang Harus Kamu Ketahui

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 16:00 WIB
Untuk menyelesaikan masalah salah tafsir di kantor, kiat harus tahu penyebabnya terlebih dahulu. (Freepik)
Untuk menyelesaikan masalah salah tafsir di kantor, kiat harus tahu penyebabnya terlebih dahulu. (Freepik)

Pejuangkantoran.comMisintepretation atau salah tafsir bisa berdampak buruk bagi lingkungan kerja jika tidak dikelola dan diatasi dengan baik. Dampaknya bisa jangka pendek, misal proyek yang tertunda, revisi berulang, hubungan kerja yang menjadi tidak baik karna dianggap tidak didengarkan, hingga produktivitas yang menurun.

Dalam jangka panjang, dampak buruknya mulai dari tumbuhnya budaya saling curiga, menutup diri, inovasi yang terhambat karena orang takut meyampaikan pendapat, turnover yang tinggi di perusahaan, hingga konflik yang berkepanjangan.

Tentu saja ketika salah tafsir ini sudah terjadi, tidak boleh ada pembiaran. Jika kamu sudah menyadari adanya misinterpretation, maka kamu bisa melakukan beberap langkah. Misal, segera mengklarifikasi, saat berbicara menggunakan nada yang netral, hingga membuka ruang diskusi dan refleksi.

Namun, supaya salah tafsir ini tidak berulang, maka kamu juga harus mengetahui terlebih dahulu apa saja penyebab bisa terjadinya salah tafsir atau misinterpretation.

Baca Juga: Dampak Buruk Misintepretation Jika Tidak Dikelola Baik . Berikut Cara Mengatasi Jika Sudah Terjadi

Berikut adalah penyebab umum terjadinya salah tafsir dalam komunikasi di tempat kerja:

  1. Bahasa yang tidak spesifik atau ambigu
  • Menggunakan kata-kata umum seperti “segera”, “nanti”, “secepatnya”, atau “sesuai kebutuhan” tanpa definisi yang jelas.
  • Kalimat multitafsir, tidak menjelaskan siapa melakukan apa, kapan, dan bagaimana.

Contoh: “Tolong disiapkan dokumennya.” Perintah ini tidak jelas, dokumen apa? Untuk siapa? Kapan?

  1. Asumsi Berlebihan
  • Mengira orang lain sudah paham konteks, istilah, atau kebiasaan tertentu.
  • Tidak menyadari bahwa lawan bicara mungkin baru, dari bidang berbeda, atau tidak mendapat informasi sebelumnya.

Contoh: Asumsi bahwa semua orang tahu prosedur kerja terbaru, padahal belum disosialisasikan. Atau karyawan baru yang belum di-training dianggap paham SOP.

  1. Perbedaan Gaya Komunikasi
  • Ada yang komunikatif dan terbuka, ada yang singkat dan hemat bicara.
  • Ada yang menyukai detail, ada yang langsung ke poin.
  • Perbedaan ini bisa membuat pesan tidak ditangkap secara utuh.
  1. Media Komunikasi yang Tidak Tepat
  • Menggunakan teks/chat untuk isu kompleks atau sensitif, yang seharusnya dijelaskan secara langsung.
  • Email panjang yang tidak terbaca tuntas, atau pesan suara yang multitafsir.

Baca Juga: 15 Jenis Keterampilan Komunikasi yang Bisa Kamu Tulis di Resume atau CV

  1. Gangguan Emosional atau Psikologis
  • Jika seseorang sedang stres, lelah, atau merasa tertekan, mereka cenderung lebih mudah salah menangkap maksud lawan bicara.
  • Nada netral bisa terdengar dingin atau kasar saat suasana hati yang menerima pesan sedang tidak stabil.
  1. Perbedaan Latar Belakang (Budaya, Jabatan, Generasi)
  • Nilai dan kebiasaan komunikasi bisa berbeda antara generasi (misal, Baby Boomers vs Gen Z), antara bagian teknis vs non-teknis, atau antar budaya organisasi.
  • Perbedaan ini memengaruhi interpretasi terhadap nada, bentuk penghormatan, dan ekspresi.
  1. Tidak Adanya Konfirmasi atau Umpan Balik
  • Komunikasi yang hanya satu arah tanpa pertanyaan, klarifikasi, atau rekap cenderung rawan disalahpahami.
  • Tidak ada kebiasaan “cek ulang” apakah pesan sudah diterima dan dimengerti.
  1. Informasi Tidak Lengkap
  • Komunikasi disampaikan setengah-setengah, tergesa-gesa, atau hanya potongan dari konteks besar.
  • Karyawan tidak tahu “kenapa” dan “untuk apa” mereka melakukan tugas tersebut, sehingga keliru menafsirkan prioritasnya.
  1. Gangguan Teknis
  • Koneksi buruk, salah kirim pesan, format file rusak, atau audio tidak jelas saat rapat online.
  • Bisa menyebabkan sebagian pesan hilang atau berubah makna.

 

Apabila sudah mengetahui penyebab salah tafsir atau misinterpretation, maka pembenahan ke depan seharusnya mulai dari hal tersebut.

Apabila penyebabnya tak hanya satu poin akan tetapi beberapa poin di atas, maka harus diselesaikan satu per satu, dimulai dari yang paling mendasar dan urgent. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X