senggang

Pink Laundry, soal Kenangan dan Luka Lama tentang Ibu yang Pergi tanpa Pesan

Senin, 2 Juni 2025 | 22:21 WIB
Palari Films akan segera meluncurkan film pendeknya, Pink Laundry. (Instagram @palarifilms)

PejuangKantoran.com - Bagi pemerhati film Indonesia,  Khozy Rizal bukanlah nama yang asing. Dua film pendeknya, Basri & Salma in a Never-ending Comedy dan Little Rebels Cinema Club, sudah melanglang buana ke berbagai kompetisi di festival film internasional.

Bahkan film terakhirnya, Little Rebels Cinema Club memenangkan Crystal Bear kategori film pendek terbaik di Festival Film Internasional Berlin 2025.

Kini, sutradara kelahiran Makassar 30 tahun lalu itu diajak kolab bareng Palari Films untuk menggarap film pendek berjudul Pink Laundry.

Baca Juga: Ditutup dengan Sukses, BRI Liga 1 2024/2025 Jadi Sinergi Dukungan BRI terhadap Sepakbola dan UMKM

Kolaborasi ini terbilang unik karena konsep film mengambil inspirasi dari wangi parfum {02} Pink Laundry, keluaran perusahaan parfum lokal Alchemist.

"Sebenarnya, kalau film kan kita tidak bisa cium baunya ya. Jadi, ya saya berusaha lihat frame-frame-nya dan bangun ceritanya yang langsung mengingatkan kita dengan Pink Laundry!” terang Khozy, saat pemutaran perdana Pink Laundry di Senayan City, Jakarta, Selasa (27/5/2025).

Proses penggarapan film dimulai dengan penulisan skenario bersama Ruth Irianty. Saat membaca skenarionya, Khozy mengaku tidak sabar untuk segera jump in ke skenario dan menggarap filmnya.

“Kolaborasi aku sama Ruth seru banget. Diskusinya bagaimana ya membuat film, yang tidak hanya represent parfum, tetapi membuat orang juga engage, tergugah sama filmnya.

"Akhirnya, kita memutuskan untuk memasukkan drama antara ibu dan anak, walau ide ini datang belakangan. Awalnya, kita ingin membuatnya seperti slash of life saja, moments si Indi (Tatjana Saphira) lagi di Kyoto mengalami rutinitas,” ujar Khozy.

Tantangan menggarap film pendek kali ini, bagi sutradara yang memulai debutnya dengan menggarap film berjudul Makassar Is a City for Football ini, bukan hanya karena harus mengikuti visi klien.

Khozy harus benar-benar mengangkat dinamika hubungan ibu Rina yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi dan anaknya, Indi.

Baca Juga: Bahasa Apresiasi atau Ungkapan Syukur Tiap Orang Berbeda, Nggak Harus Bilang Terima Kasih

“Tantangannya bagaimana membangun konflik awal di antara ibu anak ini. Kita buat backstory-nya sehingga film ini lebih terasa heartfelt,” tambahnya.

Pink Laundry bercerita tentang Indi, mahasiswa arsitektur yang sudah terbiasa hidup mandiri jauh dari rumah, tiba-tiba menerima pesan dari ibunya, yang telah meninggalkannya sejak kecil tanpa pesan.

Saat sedang mencuci pakaian di sebuah laundry, Indi menemukan sweater pink milik ibunya, yang membangkitkan kembali kenangan dan luka lama yang selama ini ia pendam.

Halaman:

Tags

Terkini