Berhubung cerita ini menyangkut suatu penyakit, Prilly dan tim harus banyak berkonsultasi dengan dokter, mendekatkan diri dengan komunitas ALS sampai membuat dokumenternya.
Ia sadar bahwa sebagai pembuat film, dirinya tidak boleh memberikan informasi yang salah mengenai ALS ini. Tantangannya adalah menyamakan realita yang dianggap benar, ke konflik yang belum pernah dihadapi di dunia nyata.
Baca Juga: Berawal Jadi Penyiar TV Dalam Negeri, Abdy Azwar Sekarang Jadi Presenter Berita di KBS News Seoul
“Sinemaku Pictures kan selalu melihat penontonnya seumuran dengan kita (filmmaker-nya), yaitu para Gen Z. Jadi, tantangannya bagaimana film ini secara cerita dewasa tapi bisa mewakili hati banyak orang.
"Bisa mewakili hati anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, teman-teman, semuanya,” tutupnya.