senggang

Review 'Sore: Istri dari Masa Depan', antara Cinta dan Fenomena Ilmiah Relativitas Waktu

Kamis, 31 Juli 2025 | 08:58 WIB
Film Sore: Istri dari Masa Depan hingga 30 Juli 2025 sudah ditonton 2.264.619 orang. (Instagram @yndlaurens)

Saya tidak ingin membahas terlalu banyak tentang alur ceritanya—yang buat banyak orang terasa membingungkan, termasuk saya. Salah satunya, bagaimana Sore bisa kembali ke masa lalu hingga berulang kali?

Adegan demi adegan membuat kita menebak-nebak, apakah kepergian Jonathan ke Benua Arktika, berada dalam pesona magis aurora di sana, mempengaruhi perjalanan waktu yang dialaminya bersama Sore?

Baca Juga: Joko Anwar Hadirkan Pemain Lintas Generasi dan Lintas Negara untuk Ghost In The Cell

Bagi saya, ide cerita karya Yandy Laurens ini sungguh brilian. Ia menggabungkan tema kekuatan cinta, keterhubungan batin yang kuat, dengan fenomena ilmiah relativitas waktu— yang bagi sebagian orang masih sulit dipahami.

Tapi kita sebagai penonton cukup menikmati saja jalan ceritanya, karena tak harus mengerti keseluruhan konsepnya untuk tahu bahwa film ini luar biasa!

Saya sudah cukup terjebak dalam pesona film ini. Dari sekian banyak film, atau drama Korea bertema serupa yang pernah saya tonton, Sore adalah mahakarya yang menakjubkan.

Dari awal film saja, kita langsung disuguhi pemandangan laut di Svalbard, gugusan pulau Arktika di Norwegia yang memukau: dua beruang kutub bermesraan, aurora yang magis, warna-warni langit yang seperti mimpi.

Menurut pembahasan di banyak media sosial, foto-foto beruang kutub dalam adegan awal film ini, sungguh diabadikan langsung di Benua Arktika. Itu saja sudah bikin saya terpukau, karena pasti tidak mudah mengambil spot yang demikian memukau dan langka.

Foto perempuan tua yang dijadikan cuplikan dalam pameran foto Jonathan pun begitu unik dan menggambarkan Jonathan sebagai seorang fotografer yang mumpuni.

Baca Juga: Sempat Enggan Ambil Film Horor Lagi, Ini Alasan Hana Malasan Terlibat di Film 'Sihir Pelakor'

Adegan-adegannya mengalir tanpa terasa banyak jeda, ataupun berdesakan. Pengambilan film di Kroasia dan Finlandia— selain Indonesia, menyuguhkan pemandangan yang tak biasa.

Ada tebing dengan danau indah di bawahnya, lokasi rumah Jo yang sederhana namun menyuguhkan kehangatan yang nyaman, jalan-jalan kecil dengan resto-resto bertebaran khas negara di Eropa.

Seperti puisi yang bergerak, mengalun membingkai cerita. Sinematografinya… benar-benar juara!

Sebagai sebuah kisah cinta, banyak dialog-dialog khas bertebaran sepanjang film.

Kalau aku hidup sepuluh ribu kali, aku akan selalu milih kamu."

Halaman:

Tags

Terkini