PejuangKantoran.com - Majalah Vogue bikin gebrakan baru edisi cetaknya untuk bulan Agustus. Dalam sebuah iklan merek Guess, muncul sosok model perempuan dengan penampilan khas: berambut pirang, tubuh ideal, dan penampilan modis.
Namun yang bikin heboh, model Guess tersebut ternyata merupakan rekaan AI. Iklan ini dibuat oleh perusahaan teknologi bernama Seraphinne Vallora, atas permintaan langsung dari Paul Marciano, salah satu pendiri Guess.
Valentina Gonzalez, salah satu pendiri Seraphinne Vallora, menjelaskan bahwa proses pembuatan model AI ini tidak semudah menekan tombol.
Baca Juga: Sempat Enggan Ambil Film Horor Lagi, Ini Alasan Hana Malasan Terlibat di Film 'Sihir Pelakor'
"Butuh waktu hingga sebulan dari konsep awal hingga jadi model final," ujar Valentina kepada BBC. "Kami punya tim berisi lima orang, dan proyek semacam ini bisa bernilai hingga ratusan ribu dollar."
Adapun Vogue menegaskan, model AI pada iklan Guess itu bukan kebijakan editorial. Hal itu hanya menunjukkan bahwa ini kali pertama muncul model AI di majalah Vogue.
Kembali ke standar lama?
Meski terdengar futuristik, kemunculan model AI di majalah Vogue ini memicu banyak kekhawatiran. Salah satunya datang dari Felicity Hayward, model plus-size yang sudah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri fashion.
Menurutnya, kehadiran model AI di kampanye fashion adalah langkah mundur.
"Kayaknya murahan dan malas. Seolah-olah brand lebih memilih teknologi demi hemat biaya tanpa memikirkan dampaknya terhadap keragaman yang sudah lama diperjuangkan," kata Felicity.
Baca Juga: Mengapa Dokter Kandungan Lebih Banyak yang Laki-Laki? Begini Penjelasan Ahlinya
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dunia fashion sempat mengalami kemajuan dalam hal inklusivitas, terutama di era 2010-an. Saat itu kita melihat kemunculan Valentina Sampaio sebagai model transgender pertama di Victoria’s Secret, serta Halima Aden yang tampil mengenakan hijab di kampanye global.
Namun, Felicity menilai bahwa industri mulai kembali ke standar lama yang sempit, dan model AI ini hanya memperburuk situasi. "Ini pukulan telak bagi para model yang tak sesuai standar ideal lama, apalagi plus-size," tambahnya.
Meski begitu, pihak Seraphinne Vallora membantah bahwa karya mereka menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis. “Model AI kami masih terlihat cukup realistis, tidak berlebihan,” kata Andreea Petrescu, co-founder Seraphinne.
Mereka juga mengaku bahwa saat mereka mencoba menampilkan lebih banyak keragaman dalam model AI, seperti warna kulit berbeda, justru tidak mendapatkan respons positif dari publik.
Artikel Terkait
8 Kesalahan Menggunakan Sunscreen, Jangan Lakukan Lagi Biar Kulit Terawat
Membalas Email sambil Menerima Telepon Tidak Membuat Pekerjaan Selesai Lebih Cepat, Tahu Kenapa?
13 Figur Lilin Taylor Swift Terinspirasi “The Eras Tour” Hadir di Madame Tussauds
WhatsApp Bakal Punya Fitur untuk Mengambil Foto dari Facebook dan Instagram secara Langsung
Komunikasi Interpersonal Itu Sangat Penting di Kantor. Berikut Ini 7 Manfaatnya!
7 Kendala Umum dan 5 Kendala Khusus Dalam Komunikasi Interpersonal yang Sering Dijumpai dan Solusinya
Peraturan dan Undang-Undang Yang Memayungi Terjaminnya Work-Life Balance di Tempat Kerja