Majalah Vogue Tampilkan Model AI untuk Iklan Guess: Bakal Jadi Ancaman di Dunia Fashion?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 30 Juli 2025 | 08:00 WIB
Kemunculan model AI di majalah Vogue ini memicu banyak kekhawatiran akan terjadinya ancaman di dunia mode. (Seraphinne Vallora)
Kemunculan model AI di majalah Vogue ini memicu banyak kekhawatiran akan terjadinya ancaman di dunia mode. (Seraphinne Vallora)

PejuangKantoran.com - Majalah Vogue bikin gebrakan baru edisi cetaknya untuk bulan Agustus. Dalam sebuah iklan merek Guess, muncul sosok model perempuan dengan penampilan khas: berambut pirang, tubuh ideal, dan penampilan modis.

Namun yang bikin heboh, model Guess tersebut ternyata merupakan rekaan AI. Iklan ini dibuat oleh perusahaan teknologi bernama Seraphinne Vallora, atas permintaan langsung dari Paul Marciano, salah satu pendiri Guess.

Valentina Gonzalez, salah satu pendiri Seraphinne Vallora, menjelaskan bahwa proses pembuatan model AI ini tidak semudah menekan tombol.

Baca Juga: Sempat Enggan Ambil Film Horor Lagi, Ini Alasan Hana Malasan Terlibat di Film 'Sihir Pelakor'

"Butuh waktu hingga sebulan dari konsep awal hingga jadi model final," ujar Valentina kepada BBC. "Kami punya tim berisi lima orang, dan proyek semacam ini bisa bernilai hingga ratusan ribu dollar."

Adapun Vogue menegaskan, model AI pada iklan Guess itu bukan kebijakan editorial. Hal itu hanya menunjukkan bahwa ini kali pertama muncul model AI di majalah Vogue

Kembali ke standar lama?

Meski terdengar futuristik, kemunculan model AI di majalah Vogue ini memicu banyak kekhawatiran. Salah satunya datang dari Felicity Hayward, model plus-size yang sudah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri fashion.

Menurutnya, kehadiran model AI di kampanye fashion adalah langkah mundur.

"Kayaknya murahan dan malas. Seolah-olah brand lebih memilih teknologi demi hemat biaya tanpa memikirkan dampaknya terhadap keragaman yang sudah lama diperjuangkan," kata Felicity.

Baca Juga: Mengapa Dokter Kandungan Lebih Banyak yang Laki-Laki? Begini Penjelasan Ahlinya

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dunia fashion sempat mengalami kemajuan dalam hal inklusivitas, terutama di era 2010-an. Saat itu kita melihat kemunculan Valentina Sampaio sebagai model transgender pertama di Victoria’s Secret, serta Halima Aden yang tampil mengenakan hijab di kampanye global.

Namun, Felicity menilai bahwa industri mulai kembali ke standar lama yang sempit, dan model AI ini hanya memperburuk situasi. "Ini pukulan telak bagi para model yang tak sesuai standar ideal lama, apalagi plus-size," tambahnya.

Meski begitu, pihak Seraphinne Vallora membantah bahwa karya mereka menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis. “Model AI kami masih terlihat cukup realistis, tidak berlebihan,” kata Andreea Petrescu, co-founder Seraphinne.

Mereka juga mengaku bahwa saat mereka mencoba menampilkan lebih banyak keragaman dalam model AI, seperti warna kulit berbeda, justru tidak mendapatkan respons positif dari publik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: BBC

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X