PejuangKantoran.com - Nugas di kafe atau kedai kopi sudah jadi hal biasa buat mahasiswa dan pekerja kantoran. Apalagi kalau ada jadwal meeting, sekalian saja bawa kerjaan ke kafe biar sekalian meeting.
Tetapi bayangkan kalau ada orang nongkrong di sana sambil bawa printer atau bahkan desktop PC lengkap. Kedengarannya lucu, tapi ternyata itu betulan terjadi di Korea Selatan.
Salah satu kedai kopi yang sering jadi tempat nugas adalah Starbucks. Tapi karena makin banyak yang menjadikan Starbucks sebagai kantor dadakan, akhirnya kedai kopi asal Seattle, Amerika, itu bikin aturan baru di Korea: dilarang membawa perangkat kerja besar-besaran.
Baca Juga: Lowongan Kerja: Marketing and Public Relations Specialist di Cathay Pacific Jakarta
“Starbucks Korea telah memperbarui kebijakan agar semua pelanggan bisa menikmati pengalaman yang nyaman.
"Laptop dan perangkat kecil masih oke, tapi mohon tidak membawa komputer desktop, printer, atau barang besar lain yang bisa mengganggu ruang bersama,” kata juru bicara Starbucks, seperti dikutip Fortune.
Fenomena Cagongjok: Nongkrong plus kerja di kafe
Di Korea, fenomena nugas di kafe ada istilahnya sendiri: cagongjok. Kata ini gabungan dari “café” dan “gongbu” (belajar/kerja), dan konotasinya cenderung agak negatif.
Awalnya sih wajar, banyak orang pakai kafe buat work from anywhere, apalagi saat pandemi. Hanya saja, makin ke sini, makin ke sana. Maksudnya, makin keterlaluan.
Ada pengunjung yang bawa perangkat berat dan numpang berjam-jam cuma dengan segelas kopi.
Baca Juga: Ingin Kerja di Bidang IT? Kamu Wajib Paham Beda Java dan JavaScript, Ini Penjelasannya!
“Memang ini cara yang murah untuk bekerja... kita bisa datang dan pesan secangkir kopi, lalu kerja. Tapi orang suka keterlaluan sekarang ini," ujar Jo Elfving-Hwang, Associate Professor di Curtin University.
Kenapa Starbucks jadi targetnya?
Starbucks di Korea bukan sekadar tempat ngopi, tapi sudah jadi semacam “ruang ketiga” selain rumah dan kantor. Sejak buka pertama kali di Seoul tahun 1999, jumlah gerainya sekarang udah lebih banyak dari Jepang. Padahal, populasi Korea cuma setengahnya.
Menurut Young-Key Kim-Renaud, profesor emeritus di George Washington University, budaya nongkrong di tempat minum ini sudah ada sejak lama.