“Meskipun kami berusaha keras menjaga kerahasiaan, sering kali hal-hal itu tetap tidak bisa benar-benar dijaga.”
Pentingnya perjanjian pra nikah (prenup)
Julia Rodgers juga menyoroti bagaimana serial ini mengangkat isu penting seputar perjanjian pra nikah. Ia memuji bagaimana All’s Fair menampilkan sisi realistis dari negosiasi prenup, terutama bagi perempuan muda.
Baca Juga: Ketika Menghadapi Tekanan Pekerjaan di Lingkungan Kantor, Terapkan Emotional Resilience !
“Memang ada beberapa bagian yang dibuat lebih dramatis untuk acara TV,” katanya, “tapi banyak dari negosiasi itu yang benar-benar terjadi.”
Julia mencontohkan karakter Grace yang menandatangani prenup saat masih muda.
“Itu contoh sempurna dari seseorang yang bisa lebih terlindungi jika punya perjanjian pranikah,” katanya.
Menurutnya, “Sebuah perjanjian pranikah yang disusun dengan baik mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan.”
Sisi emosional perceraian
Bagi Laura Wasser, kekuatan terbesar All’s Fair bukan pada glamor atau intrik hukumnya, melainkan pesan universal tentang patah hati.
“Hampir semua klien dalam episode-episode itu berkata, ‘Bagaimana ini bisa terjadi padaku?’” ujarnya. “Perceraian adalah pengalaman yang menyamakan semua orang. Ia membuat semua orang berada di posisi yang sama.”
Ia kemudian menambahkan dengan nada reflektif, “Ini adalah seseorang yang dulu berbagi ranjang denganmu, seseorang yang begitu dekat....
"Mereka dulu seperti bagian dari dirimu, dan sekarang tidak lagi. Bagaimana sih, rasanya kehilangan itu? Seperti apa rasanya?”
Serial All’s Fair mungkin tidak sepenuhnya akurat dari sisi hukum, tetapi jelas berhasil menangkap sisi emosional dari perceraian. Bagaimana tokoh-tokohnya mengekspresikan rasa kehilangan, kekuatan, dan pencarian makna baru setelah hubungan berakhir.