Pejuangkantoran.com – Kemajuan teknologi AI adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Meskipun masih ada pro dan kontra terhadap isu seberapa jauh AI mestinya digunakan, pada kenyataannya adopsi (penggunaan) artificial intelligence untuk keperluan Perusahaan sudah cukup masif.
Menurut laporan OECD di website mereka oecd.org, menyebutkan bahwa di negara-negara yang tergabung dalam OECD, ada sekitar 13,9% Perusahaan (enterprise) yang telah mengimplementasikan solusi AI (data 2024).
Dari data ini menunjukkan bahwa meskipun perkembangan AI terhitung cepat, namun baru “leading firms” (perusahaan besar atau knowledge-intensive) yang jauh lebih cepat mengadopsi daripada perusahaan kecil.
Sementara dari laporan AI Index 2025, seperti yang dimuat di hai.stanford.edu, menyebutkan bahwa penggunaan generative AI di organisasi (setidaknya untuk satu fungsi bisnis) mencapai 71% pada 2024, naik drastis dari 33% di 2023.
Ini menunjukkan bahwa generative AI (seperti LLM) sudah sangat dominan di kalangan organisasi bisnis, tapi tidak secara langsung mengukur “AI digunakan oleh semua masyarakat.
Baca Juga: Devin, Software Engineer AI Pertama di Dunia yang Bisa Membangun Situs Web Hanya dari Single Prompt
Melihat begitu besarnya penggunaan AI dengan tren yang terus meningkat, maka ke depan kebutuhan akan AI semakin besar.
Ini akan membutuhkan peningkatan-peningkatan yang terus menerus pada kemampuan AI. Peningkatan ini tetap harus diarahkan oleh manusia. Selain mangarahkan, manusia juga akan mengevaluasi, dan memperbaiki, model kecerdasan buatan, terutama LLM seperti ChatGPT, Gemini, Claude.
Manusia yang tugasnya melakukan hal-hal tersebut di atas disebut sebagai AI Trainer atau Pelatih AI. Mengapa AI perlu AI Trainer?
- AI hanya “mengenal pola”, tidak “mengerti/memahami” dunia
AI itu belajar dari pola dalam data, ia tidak memahami makna sebagaimana manusia. AI itu sering salah konteks, bias, “ngasal”, menjawab terlalu literal, dan tidak mengikuti etika sosial atau hukum.
Tugas AI Trainer: memberikan pemahaman tambahan kepada AI melalui koreksi, evaluasi, dan preferensi manusia.
Baca Juga: AI Ternyata Tidak Netral, dan Justru Bisa Memperparah Penyimpangan Karyawan di Tempat Kerja
- Mengurangi bias dan keberpihakan
Data yang tersebar dalam jariangan internet itu penuh bias: gender, etnis, stereotip, dan opini esktrem.
Tugas AI Trainer: Menjaga agar bias itu tidak bertambah parah dan terreproduksi oleh AI.