PejuangKantoran.com - Kecerdasan buatan atau AI sedang mengubah cara kerja tim dan perusahaan dengan sangat cepat. Banyak perusahaan kini memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin, menganalisis data besar, hingga mempercepat penyelesaian proyek.
Produktivitas meningkat drastis dan bisa diukur dengan jelas. Namun, di balik peningkatan efisiensi itu, ada sisi lain yang sering terlupakan.
Masalah seperti dinamika tim, kelelahan karyawan, budaya kerja yang lemah, atau penyimpangan prosedur justru tidak ikut membaik. Bahkan, di beberapa perusahaan, masalah ini malah makin parah.
Baca Juga: Misteri Suara Gamelan yang Cuma Bisa Didengar Cinta Brian Tiap Pagi saat Syuting Film 'Kuncen'
Mengandalkan pendekatan AI-first dalam mengelola manusia ternyata bisa memunculkan efek samping yang serius.
AI tak bisa menggantikan empati manusia
AI memang bisa diandalkan dalam hal teknis, seperti menganalisis data, mengenali pola, atau mengerjakan tugas berulang tanpa lelah. Namun, AI tidak punya empati, intuisi, dan pemahaman konteks seperti manusia.
Neil Morrison, Kepala SDM Global di Staffbase, mengatakan, “AI bisa mengenali masalah dari data, tetapi tidak bisa membangun kepercayaan antarmanusia atau memperbaiki hubungan kerja yang rusak.”
Bayangkan ketika kepercayaan antar tim mulai menurun. Maka, sistem berbasis AI mungkin bisa mendeteksi tanda-tandanya lewat analisis komunikasi atau data kehadiran rapat.
Namun, mendeteksi bukan berarti menyelesaikan. Untuk memulihkan kepercayaan, dibutuhkan percakapan manusia yang jujur dan terkadang tidak nyaman, yang tidak bisa dilakukan AI.
Baca Juga: Wali Kota Muslim Pertama New York Zohran Mamdani Punya Latar Belakang Keluarga yang Elit
Hal serupa juga terjadi ketika karyawan mulai kehilangan semangat kerja. AI bisa menunjukkan adanya penurunan partisipasi dalam kegiatan perusahaan, tetapi tidak bisa memahami alasan di baliknya.
Karyawan yang merasa tidak didengar, tidak cocok dengan arah tim, atau merasa tidak aman untuk berpendapat, hanya bisa dipahami lewat empati dan interaksi manusia.
Risiko “atrofi” kemampuan manusia
Menurut Shrinath Thube, pengembang di IBM, ada risiko lain yang muncul akibat terlalu banyak mengandalkan AI, yaitu kemampuan manusia yang makin menurun karena jarang dipakai.
Artikel Terkait
Jika Punya Rekan Kerja yang Energinya Selalu Negatif, Coba Atasi dengan 5 Cara Ini!
The Art of Doing Nothing Dianggap Jadi Olahraga di Korea Selatan, Mau Coba?
Pegawai Swasta di Jakarta dengan Gaji Rp6,2 Juta Per Bulan Bisa Gratis Naik LRT, MRT, TransJak
China Buka Lowongan Kerja Jadi Pemberi Makan Harimau dengan Gaji Rp100 Juta Per Bulan
Fakta di Balik Pekerjaan Petugas Pemetaan Google Maps, Benarkah Dibayar Rp3 Juta Sehari?
Konsep Kerja Menurut Chief Evangelist Canva ini Bisa Menjadi Fondasi Budaya Kerja yang Ideal Saat Ini
Window-Sitting Tidak Selalu Berarti Negatif. Bisa Bermanfaat Positif Jika Mengikuti 7 Panduan Berikut Ini