Perusahaan yang Terlalu Mengandalkan AI akan Kesulitan Membangun Relasi yang Sehat Antar Karyawan

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 7 November 2025 | 18:52 WIB
Ilustrasi: Perusahaan yang terlalu mengandalkan AI akan kesulitan membangun kepercayaan dan memperbaiki hubungan yang buruk. (Freepik/Drazen Zigic)
Ilustrasi: Perusahaan yang terlalu mengandalkan AI akan kesulitan membangun kepercayaan dan memperbaiki hubungan yang buruk. (Freepik/Drazen Zigic)

PejuangKantoran.com - Kecerdasan buatan atau AI sedang mengubah cara kerja tim dan perusahaan dengan sangat cepat. Banyak perusahaan kini memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin, menganalisis data besar, hingga mempercepat penyelesaian proyek.

Produktivitas meningkat drastis dan bisa diukur dengan jelas. Namun, di balik peningkatan efisiensi itu, ada sisi lain yang sering terlupakan.

Masalah seperti dinamika tim, kelelahan karyawan, budaya kerja yang lemah, atau penyimpangan prosedur justru tidak ikut membaik. Bahkan, di beberapa perusahaan, masalah ini malah makin parah.

Baca Juga: Misteri Suara Gamelan yang Cuma Bisa Didengar Cinta Brian Tiap Pagi saat Syuting Film 'Kuncen'

Mengandalkan pendekatan AI-first dalam mengelola manusia ternyata bisa memunculkan efek samping yang serius.

AI tak bisa menggantikan empati manusia

AI memang bisa diandalkan dalam hal teknis, seperti menganalisis data, mengenali pola, atau mengerjakan tugas berulang tanpa lelah. Namun, AI tidak punya empati, intuisi, dan pemahaman konteks seperti manusia.

Neil Morrison, Kepala SDM Global di Staffbase, mengatakan, “AI bisa mengenali masalah dari data, tetapi tidak bisa membangun kepercayaan antarmanusia atau memperbaiki hubungan kerja yang rusak.”

Bayangkan ketika kepercayaan antar tim mulai menurun. Maka, sistem berbasis AI mungkin bisa mendeteksi tanda-tandanya lewat analisis komunikasi atau data kehadiran rapat.

Namun, mendeteksi bukan berarti menyelesaikan. Untuk memulihkan kepercayaan, dibutuhkan percakapan manusia yang jujur dan terkadang tidak nyaman, yang tidak bisa dilakukan AI.

Baca Juga: Wali Kota Muslim Pertama New York Zohran Mamdani Punya Latar Belakang Keluarga yang Elit

Hal serupa juga terjadi ketika karyawan mulai kehilangan semangat kerja. AI bisa menunjukkan adanya penurunan partisipasi dalam kegiatan perusahaan, tetapi tidak bisa memahami alasan di baliknya.

Karyawan yang merasa tidak didengar, tidak cocok dengan arah tim, atau merasa tidak aman untuk berpendapat, hanya bisa dipahami lewat empati dan interaksi manusia.

Risiko “atrofi” kemampuan manusia

Menurut Shrinath Thube, pengembang di IBM, ada risiko lain yang muncul akibat terlalu banyak mengandalkan AI, yaitu kemampuan manusia yang makin menurun karena jarang dipakai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Reworked

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X