senggang

Ini Alasan Kenapa Film Garuda Di Dadaku Dihadirkan dalam Format Animasi untuk Layar Lebar

Selasa, 23 Desember 2025 | 17:48 WIB
Film Garuda di Dadaku kembali dihidupkan, namun dalam format animasi. (Base Entertainment)

PejuangKantoran.com - Sebagai salah satu intellectual property (IP) ikonis di Indonesia, film Garuda di Dadaku  telah melekat sebagai tema sportivitas anak pra-remaja, semangat sepak bola, serta drama keluarga yang menjadi kebanggaan nasional.

Film ini pertama kali dibuat pada tahun 2009. Lalu, film kedua dirilis tahun 2011 dan dibuat versi televisi selama dua musim pada tahun 2014 dan 2015. Revalina S. Temat didapuk sebagai pemeran utamanya. 

Setelah itu, Garuda di Dadaku tidak digarap lagi. Setelah 10 tahun berselang, produser sekaligus salah satu pendiri rumah produksi Base Entertainment merasa sudah waktunya Garuda di Dadaku digarap lagi untuk dirilis 2026.

Baca Juga: Jadwal Misa Natal 2025 di Gereja-gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)

“Sudah 10 tahun yang lalu tim Garuda bertanding. Rasanya, ini sudah waktunya. Akhirnya, di penghujung 2025, kita kembali hidupkan Garuda di Dadaku.

"Di awal, kita memikirkan bagaimana caranya kita mempertemukan kembali Garuda di Dadaku dengan penonton Indonesia yang baru,” ujar produser Shanty Harmayn, saat konferensi pers di Plaza Indonesia XXI, Jakarta,  (17/12/2025).

Akhirnya, tim Base Entertainment memutuskan untuk menghadirkan film ini dalam bentuk animasi. Rencana membuat film animasi ini sebenarnya sudah lahir sejak tiga tahun lalu, ketika masa pandemi.

Rencana diawali dengan pertemuan Shanty dengan Robby Gani yang saat itu masih bekerja di perusahaan animasi di Singapura. Dari chatting lewat DM Instagram, keduanya akhirnya bertemu dan membahas tentang film animasi.

Mereka membahas tentang mimpi besar untuk mengangkat film animasi Indonesia, karena potensinya besar dan Indonesia punya talenta yang banyak. 

"It should be an industry by itself gitu. Apalagi Mas Robby sudah ada dalam industri animasi sudah lama. Walau saya baru di dunia animasi, saya langsung, 'Gimana nih, Rob?'. Akhirnya saya bajak dia! Begitulah awal mulanya!” seru Shanty sambil tertawa.

Dari obrolan ini juga, ada kesepakatan kreatif dalam membuat animasi Garuda di Dadaku. Dari awal, mereka sepakat untuk tidak membuat animasi yang familiar dengan anak-anak zaman sekarang seperti produksi Disney atau Pixar.

Baca Juga: Lulusan Akademi Maritim, Ada Lowongan Kerja Operation Supervisor di PT Berlian Laju Tanker Tbk Nih!

Mereka ingin menghadirkan apa yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia dengan menggunakan resources yang ada.

“Kita diskusi panjang lebar bukan hanya tentang ceritanya, tapi aspek visualnya. Yang kami yakini paling utama adalah kita harus mencari titik kekuatan di mana film kita bisa bersanding atau bersaing dengan film-film animasi luar negeri, yang industrinya sudah lama, sudah terbentuk, dan sudah jauh lebih dulu dinikmati,” tukas Robby Gani, yang kemudian bertindak sebagai sutradara.

Dalam menggarap Garuda di Dadaku, Robby merasa yang akan menjadi kekuatan visual dari film animasi ini adalah sisi craftsmanship-nya, artistiknya, dan tidak terlalu menitikberatkan pada teknologi yang terlalu mahal dan canggih. 

Halaman:

Tags

Terkini