3 Kisah Pahit Pengejar Visa WHV Australia: Antara Janji Media Sosial dan Realita yang Kelam

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 23 Desember 2025 | 09:15 WIB
Ilustrasi: Banyak orang Indonesia yang rela meninggalkan pekerjaan mapan untuk mengejar pekerjaan sektor non formal melalui WHV di Australia. (Freepik)
Ilustrasi: Banyak orang Indonesia yang rela meninggalkan pekerjaan mapan untuk mengejar pekerjaan sektor non formal melalui WHV di Australia. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Bekerja di Australia lewat skema Work and Holiday Visa (WHV) saat ini menjadi jalan ninja bagi banyak orang Indonesia untuk mengejar impian untuk hidup lebih layak di negeri orang.

Pekerjaan gampang, gaji besar, hidup nyaman, dan bisa menabung hingga ratusan juta rupiah, itulah gambaran yang sering disampaikan influencer di TikTok dan Instagram.

Namun, realitas di lapangan sering kali jauh berbeda dari apa yang ditampilkan para influencer.
Catherine adalah salah satu contohnya.

Baca Juga: Tak Sekadar Tayang, Film TIMUR Lakukan Ini untuk Korban Bencana Sumatera

Sebelum berangkat, ia bekerja sebagai apoteker di Indonesia. Media sosial membuatnya tergiur: ada yang mengklaim bisa menghasilkan hingga satu miliar rupiah dalam setahun hanya dengan pekerjaan sederhana.

Dengan harapan memperbaiki kondisi finansial sekaligus merasakan hidup di luar negeri, Catherine akhirnya berangkat ke Australia menggunakan WHV.

Jam kerja panjang dan berisiko tinggi

Namun setibanya di Perth pada awal 2025, ia langsung dihadapkan pada realita yang pahit. Catherine memulai pekerjaan sebagai cleaner, lalu mengambil dua pekerjaan sekaligus di bidang housekeeping dan ritel.

Secara teori, pendapatannya memang lebih besar dibanding di Indonesia. Tetapi biaya hidup yang tinggi, jam kerja yang panjang, dan tuntutan fisik yang berat, membuat semuanya terasa tidak seindah di media sosial.

"Mungkin nggak, menghasilkan 1 miliar rupiah? Ya, mungkin, tetapi ada banyak pengorbanan yang harus kita lakukan," ujar Christine, seperti dikutip ABC Net Australia.

Baca Juga: Banyak Ibu Merindukan Waktu untuk Diri Sendiri, Ini Potret Emosional Bunda Masa Kini

"Kita perlu bekerja di beberapa tempat, dan meskipun kita bisa menghasilkan sebanyak itu, tubuh kita juga butuh istirahat, kan?" tambahnya. Pada titik tertentu, kelelahan fisik dan mental menjadi harga yang harus dibayar.

Catherine bukan satu-satunya orang yang rela meninggalkan pekerjaan mapannya di Indonesia untuk mengejar pekerjaan di sektor non formal di Australia.

Banyak WNI datang ke Australia dengan gambaran yang dibentuk oleh konten influencer yang hanya menampilkan yang indah-indah.

Ada video yang menunjukkan pekerjaan di ladang, rumah potong hewan, atau supermarket, sambil menekankan bahwa pekerjaan itu mudah dan tidak memerlukan kemampuan bahasa Inggris.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: ABC Net

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X