PejuangKantoran.com - Konflik antara mertua dan menantu perempuan yang tinggal satu rumah sering terjadi di kehidupan nyata. Konflik inilah yang kini diangkat oleh VMS Studio dan Umbara Brothers dalam film Keluarga Suami Adalah Hama.
Film ini dibalut dengan persoalan yang kini juga marak dibicarakan, yaitu tentang sandwich generation. Yang dimaksud generasi sandwich adalah orang-orang yang harus membiayai anak-anak sekaligus orang tua mereka.
Diangkat dari film pendek yang ditayangkan melalui aplikasi Noice, Anggy Umbara banyak memasukkan pengalaman pribadinya saat mengembangkan naskah film versi layar lebarnya.
Baca Juga: Sempat Vakum 6 Tahun, Fairuz A. Rafiq Akui Harus Banyak Belajar di Film 'Keluarga Suami Adalah Hama'
Sebagai pria yang sudah menikah 20 tahun, Anggy kerap terjebak dalam dilema antara ibu yang melahirkan atau istri sebagai pasangan yang ia pilih untuk mendampingi seumur hidup.
“Yang saya rasakan jelas dekat sekali, point of view first man shooter. Cerita ini seperti saya sedang curhat. Banyak kejadian yang saya alami sendiri yang saya masukkan ke dalam cerita, seperti adegan istri yang menangis diam-diam di malam hari.
"Saya juga mendapati istri menangis diam-diam akibat perselisihan dengan almarhumah ibu selama belasan tahun. Bahkan, ada kejadian yang paling exact, yaitu ketika ada WhatsApp dengan teman istri yang saya baca.
"Dia bilang, 'Ntar yah, mak lampir datang'. Makanya ada adegan di mana Damar melihat WhatsApp dari Sisi (Fairuz A. Rafiq), sahabat Intan (Raihaanun) yang menyebut 'keluarga kamu keluarga hama',” ujar Anggy Umbara, saat ditemui di kantor VMS Studio, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Tema tentang sandwich generation ini juga dirasakan Omar Daniel, pemeran Damar. Ketika ayahnya meninggal, Damar dituntut untuk menanggung seluruh tanggung jawab finansial keluarga. Di sisi lain, ia juga ingin bertanggung jawab terhadap istrinya.
Dalam kehidupan sehari-harinya, Omar belum menikah tetapi tidak memungkiri bahwa ia bisa membayangkan beban yang dipikul seorang sandwich generation.
Baca Juga: Garap Komedi Horor Pertama Kali, Imam Darto Banyak Memasukkan Adegan Dadakan di 'Gudang Merica'
“Menjadi tulang punggung keluarga, ya, pasti saya pernah mengalami, dan menurut saya itu adalah sebuah kebanggaan. Itu adalah sebuah gift yang tidak semua orang bisa dapat kesempatan itu.
"Kita bilang ke orang tua, ‘Oke, stop kerja. Istirahat, biar saya yang menggantikan kalian'. Menurut saya itu adalah a blessing. Jadi, harus disyukuri dan dijalani dengan sangat baik!” ujar aktor kelahiran Surakarta, 9 April 1995 ini.
Namun, Omar tidak memungkiri bahwa friksi bisa terus datang berkaitan dengan komunikasi antara orang tua dan anak yang jadi tulang punggung keluarga. Itu bisa dari cara berkomunikasi atau suasana hati yang sedang tidak baik.
“Tinggal bagaimana cara keluarga berkomunikasi dengan baik sih, tentang apa yang mereka butuhkan. Terkadang orang tua suka lupa, menyampaikan dengan pandangan bahwa kita selalu anak kecil. Cara menyampaikannya terlalu frontal.