PejuangKantoran.com - Selama ini, divisi Human Resources (HR) identik dengan tugas-tugas rekrutmen karyawan baru, bikin kebijakan kantor, mengurus dokumen kepatuhan hukum, atau bikin acara kebersamaan karyawan. Sekarang, tugas mereka nggak cuma itu.
Saat ini, tim HR dituntut untuk mengerti angka-angka yang biasa dipelajari oleh seorang Direktur Keuangan (Chief Financial Officer) setiap kuartal. Dari data pertumbuhan pendapatan, margin operasional, hingga produktivitas kerja karyawan.
Singkatnya, orang HR zaman sekarang wajib analisis data yang menggerakkan kesuksesan bisnis perusahaan.
Baca Juga: Beasiswa Avicenna Studienwerk untuk Mahasiswa Muslim Internasional yang Mau Kuliah di Jerman
Jarlath Doherty, Chief People Officer (CPO) di Kinore, Finance & Business Services, New York City, menjelaskan bahwa masa depan HR sangat bergantung pada perubahan sudut pandang ini. Makanya pemimpin HR juga harus fasih berbicara menggunakan data, analisis, dan performa keuangan.
"Para pemimpin HR perlu memahami angka-angka yang menggerakkan perusahaan. Kalau tidak bisa menghubungkan keputusan tentang karyawan dengan hasil bisnis, Anda akan kesulitan mendapatkan kredibilitas di meja direksi," jelas Doherty.
Perusahaan modern saat ini tidak menganggap HR sebagai bagian administrasi saja, melainkan juga harus menjadi mitra bisnis yang sejajar dengan CEO dan jajaran direksi.
Antara karyawan dan keuntungan perusahaan
Salah satu gap yang dilihat Doherty adalah kemampuan finansial tim HR yang masih kurang. Sekarang ini, Human Resources nggak cuma diminta membuat program-program karyawan yang sekadar bagus.
Baca Juga: Gelombang PHK di Meta Pangkas 8.000 pekerjaan, Staf di Singapura Kena Mental Diberitahu Jam 4 Pagi
HR juga harus bisa memprediksi apakah kebutuhan tenaga kerja itu selaras dengan proyeksi pendapatan. Selain itu, mampu menyusun anggaran gaji karyawan yang kompetitif tapi tidak membebani neraca perusahaan, serta mengukur dampak finansial dari kebijakan yang mereka keluarkan.
CEO dan jajaran direksi cenderung mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam dan menuntut jawaban berdasarkan data, seperti:
• Bagaimana bisnis bisa berkembang tanpa harus menambah jumlah karyawan secara terus-menerus?
• Di bagian mana perusahaan terlalu banyak membuang anggaran untuk karyawan, dan di mana kita kekurangan orang berbakat?
• Apakah perusahaan sudah membangun tim yang siap bekerja berdampingan dengan AI?
Artikel Terkait
Contoh Jawaban dalam Bahasa Inggris ketika Ditanya, 'Kapan Bisa Mulai Bekerja?' usai Wawancara Kerja
Sempat Sepi Peminat, Gimana Sih Cara Mengajukan Permohonan Global Citizenship of Indonesia?
Dokumen Persyaratan bagi Eks WNI yang Ingin Mengajukan Visa Global Citizenship of Indonesia
Pemerintah Australia Menghentikan Pendaftaran Kampus Swasta untuk Mahasiswa Internasional
Bukan Cuma Dark Chocolate, Ini 8 Makanan yang Bisa Bantu Redakan Stres
LRT Jakarta Buka LowonganKerja Jadi Passenger Service Agent, Simak Kualifikasinya
Kamu Alami Plateau atau Performa Lari Stagnan Meskipun Sudah Rutin Latihan? Begini Penjelasannya!