Jack Ye Pendiri Dan Pemilik Miniso Terinspirasi Oleh Suvenir Di Jepang Yang Produksi China

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 2 November 2024 | 09:00 WIB
Jack Ye, pendiri dan pemilik Miniso (Miniso.com)
Jack Ye, pendiri dan pemilik Miniso (Miniso.com)

Pejuangkantoran.com Siapa yang tak kenal Miniso? Bagi yang tinggal di wilayah urban, rasanya kenal sekali dengan ritel aneka barang yang banyak membuka outlet di pusat perbelanjaan ini.

Bahkan saat mau mencari pernak-pernik unik untuk hadiah, untuk tukar kado, atau sekadar untuk koleksi, Miniso sudah menjadi acuan.

Seperti beberapa waktu lalu, Miniso membuat Potterhead Indonesia panik. Ini gara-gara Miniso mengeluarkan pernak-pernik yang berkolaborasi dengan Harry Potter.

Mereka datang berbondong-bondong hingga rela antre panjang di berbagai jaringan toko Miniso, demi mendapatkan koleksi Harry Potter.

Perkembangan Miniso memang tidak main-main. Menurut stockanalysis.com, Miniso Group Holding memperoleh revenue sebesar 4,04 miliar CNY pada kuartal yang berakhir 30 Juni 2024, dengan pertumbuhan 24,08%.

Ini artinya, dalam 12 bulan terakhir, revenue Miniso Group Holding menjadi 13,84 miliar, naik 39,43% dibandingkan tahun lalu. Bukan pencapaian yang kecil.

Baca Juga: 6 Tips Memilih Ide Bisnis Berpotensi Besar tapi Minim Risiko, Mulai dari yang Kecil!

Sosok Pemilik Miniso 

Miniso benar-benar dimulai dari nol. Adalah pria bernama Ye Guofu atau akrab disapa Jack Ye. Ia berasal dari China.

Dikutip dari The Richest, Jack Ye bukanlah sosok dari kalangan orang kaya. Jack Ye lahir dan dibesarkan oleh keluarga petani yang tinggal di Provinsi Hubei, China.

Meskipun kondisi keuangan keluarganya pas-pasan, ini tidak mematahkan semangat Jack Ye muda untuk melanjutkan studi di Manajemen Ekonomi di Zhongnan University of Economics and Law di China.

Begitu lulus, Jack Ye pindah ke Provinsi Guangdong dan mulai bekerja sebagai sales di toko pipa baja. Sambil bekerja, Jack mengasah keahliannya dalam berbisnis ritel dengan menjual berbagai produk aksesoris dan kerajinan tangan.

Ini yang kemudian menjadi Arayaya, toko ritel pertamanya. Sayangnya, Arayaya ini kemudian bangkrut.

Kebangkrutan Arayaya disebabkan karena konsumen di China lebih menginginkan produk dengan berkualitas tinggi dan tak terlalu melihat soal harga murah produk-produk toko milik Jack Ye.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X