PejuangKantoran.com - Suaranya tegas, ekspresinya garang. Ia sempat mengatakan bahwa bupati yang cengeng dan tidak mampu menangani bencana sebaiknya mundur. Ia juga mengatakan bahwa mempersulit bantuan asing adalah keputusan bodoh.
Namun Gubernur Aceh Muzakir Manaf tak kuasa menahan air matanya ketika ditanya Najwa Shihab mengenai bencana banjir dan longsor di Sumatra yang tidak segera ditetapkan sebagai bencana nasional.
"Mualem, soal status bencana yang bukan status bencana nasional. Apakah itu menyulitkan Mualem sebagai gubernur Provinsi Aceh menangani bencana ini?" tanya Najwa, seperti dikutip kanal YouTube Najwa Shihab, pada Selasa (9/12/2025).
Namun Mualem, sapaan akrab Muzakir Manaf, merasa dirinya tidak punya wewenang (untuk mendorong status bencana nasional).
"Ya, saya pada prinsipnya tidak, tidak… apa, hanya berusaha, hanya berdoa," sahutnya terbata-bata.
Usai mengatakan hal tersebut, Mualem menunduk dan terdiam sesaat. Sambil mengusap wajahnya, ia mengungkapkan harapannya agar bantuan segera datang dan warga segera mendapat pertolongan.
Ia bahkan meminta maaf karena tak dapat membendung air matanya di tengah wawancara. Najwa menepis hal itu, sambal mengatakan bahwa semua tahu sang gubernur tak berhenti bekerja siang malam untuk menemui warga yang terdampak bencana.
Mantan Panglima GAM
Tak banyak yang tahu Muzakir Manaf punya rekam jejak yang panjang dalam perjuangan Aceh. Ia ternyata mantan Panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka), organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Aceh.
Lahir di Gampong Mane Kawan, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, 3 April 1964, Mualem tak melanjutkan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Ia memilih menjadi pejuang GAM.
Sebagai pejuang, Mualem punya pengalaman bergerilya di hutan belantara. Ia memimpin pasukan dalam berbagai pertempuran melawan aparat keamanan. Hal inilah yang menempa dirinya menjadi tokoh yang tangguh dan disegani.
“Mualem” sendiri bukan sekadar nama panggilan, melainkan julukan yang diberikan kepada sosok yang dinilai punya keterampilan yang mumpuni di dunia militer.
Di usia 22 tahun, ia sudah menerima jabatan Panglima Perang GAM, dan menjalani pelatihan tempur bersama anggota GAM lainnya di Libya. Di negara tersebut, ia bahkan pernah menjadi pengawal pribadi tokoh revolusi dan pemimpin Libya Muammar Khadafi.
Artikel Terkait
G-Dragon Resmi Jadi Materi Kuliah di USC, Jejak Pengaruh Sang Ikon K-Pop Dibedah di Dunia Akademik
Penyedia Solusi End-to-End di Bidang ICT, Lintasarta, Buka Lowongan Kerja Mobile Digital Forensic
Makna 'Bare Minimum' di Tempat Kerja: Karyawan dan Perusahaan Harus Sama-sama Punya Andil
Pendaftaran Paket Internet Rakyat Rp100.000 per Bulan Sudah Dimulai hingga Desember 2025
Garap Film Timur, Iko Uwais Beberkan Beda Budaya Kerja di Film Hollywood dan Indonesia
Cara Mendaftar Paket Internet Rakyat untuk Pengguna di Wilayah Jawa, Maluku, dan Papua
Lakukan 4 Peregangan Berikut Ini Selama 15 Menit Setelah Kamu Olah Raga Lari. Ada Pantangannya!