“Contohnya aja ketika saya diajak clubbing sama seorang wanita. Seharusnya seorang Fico Fachriza mau, tapi saat itu saya malah menolak. Masih terbawa dengan karakter si Andromeda,” serunya.
Terlepas dari banyaknya tantangan yang harus dijalani Fico dalam memerankan anak berkebutuhan khusus, ia menganggap semua itu adalah tantangan yang seru dan menyenangkan.
Baca Juga: Geoffrey Hinton, The Godfather of AI yang Menyesal dengan Teknologi Ciptaannya Sendiri
“Karena saya diberi kesempatan bertemu dengan banyak anak berkebutuhan khusus, itu mengubah cara pandang dan insight saya tentang mereka. Contohnya, saat saya mengobrol dengan salah satu anak yang tangannya biru-biru.
“Saya tanya kenapa? Dia jawab dengan santai, ‘Dipukul.’ Ternyata waktu dia bermain bola, dia nggak sengaja menyenggol temannya tetapi malah dipukul, dan anak ini tidak bereaksi apa-apa.”
Pengakuan tersebut membuat Fico kaget. Dia terpikir, bagaimana anak-anak ini bisa menghadapi dunia kalau reaksinya seperti itu?
Oleh sebab itu, menurutnya, kita harus bisa menciptakan lingkungan yang aman buat teman-teman berkebutuhan khusus. (Syanne Susita)
Artikel Terkait
“Indonesia’s Sweetheart” Syifa Hadju dan Rizky Nazar Bertemu Lagi di The Princess & The Boss
KTP DKI Dinonaktifkan Karena Kerja di Luar Jakarta? Ini Cara Mudah Urus Pindah Domisili
WHO Sebut Pandemi Covid-19 Sudah Bukan Darurat Global, Ini Tanggapan Kemenkes
Lagu Glorious Weird Genius Resmi Jadi Lagu Turnamen FIFA U-20 di Argentina
Siap-Siap, Jam Masuk Kantor di Jakarta akan Dibagi Jadi 2 Sesi
Lowongan Associate - Senior Consultant, Transaction Diligence Services di Ernst & Young