Pengabdian Amira Abdat, Jadi Satu-satunya Dokter Kandungan di Fakfak, Papua Barat

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 16 Mei 2023 | 20:12 WIB
Kiprah dokter kandungan Amira di Fakfak Papua (Dok. Unair)
Kiprah dokter kandungan Amira di Fakfak Papua (Dok. Unair)

PejuangKantoran.com - Menjadi dokter yang mengabdi di daerah terpencil adalah sebuah komitmen tersendiri. Tak terkecuali buat dokter spesialis kandungan Amira Abdat SpOG. 

Alumnus FK UNAIR 2020 kini mengabdikan diri menjadi satu-satunya dokter spesialis kandungan di Fakfak, Papua Barat. Ia juga kerap membagikan konten edukasi kesehatan reproduksi dan ibu hamil di sosial media.

Jejak Studi Amira

Pemilik akun instagram @amira.abdat19 mendapat beasiswa dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada 2015 silam untuk melanjutkan pendidikan spesialisnya di UNAIR. Ia menuntaskan studi S1 kedokteran di Universitas Trisakti 2012 silam.

Kemudian 2013 hingga 2015 menjadi dokter umum, mendapat penempatan di puskesmas pelosok FakFak.

Baca Juga: Waktu Negosiasi Berakhir, LockBit Sebar Data BSI di Situs Gelap

“Saya mengamati dokter spesialis kandungan di sana tidak ada yang menetap sehingga ada dan tiada. Dengan segala urgensi yang ada, saya belum cukup ilmu untuk menggantikannya, sehingga saya melanjutkan spesialis di UNAIR dari 2015 hingga 2020. Selepas pendidikan hingga hari ini saya kembali mengabdikan diri di Fakfak Papua,” jelasnya.

Urgensi yang Mendorongnya Kembali ke Papua

Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) itu melaporkan terdapat 95 ribu jumlah penduduk di fakfak dan 50 persennya adalah perempuan. Dengan kondisi sulitnya akses pemeriksaan kehamilan, banyaknya kekerasan seksual, hingga meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

“Kehadiran kami, selain pengobatan, juga penyuluhan terkait seks pra-nikah. Sebab dari fenomena yang ada, kebanyakan saat hamil anak ketiga, sang ibu baru dinikahi suami. Itu pun secara siri dan sudah dinormalisasi. Terlepas dari minimnya hiburan, mereka melakukan hubungan seksual tanpa dibekali pengetahuan,” paparnya.

Baca Juga: Sempat Pingsan, Atlet Balap Sepeda Dara Latifah Sabet 2 Emas di SEA Games Kamboja 2023

Kondisi itu diperparah dengan penolakan penduduk terhadap dokter maupun tenaga medis. Sebab, kebiasaan penduduk yang lebih tertarik ke dukun daripada tempat pelayanan kesehatan.Tak mengherankan, lantaran jarak tempuh dari kampung ke kota menghabiskan waktu berjam-jam. Banyak pula penduduk yang belum memiliki kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Jangankan BPJS, akta kelahiran, kartu keluarga dan berkas administratif lainnya. Mereka cenderung belum memiliki,” kata alumnus UNAIR itu.

Selanjutnya, mengenai kondisi fasilitas kesehatan di Papua Barat, dokter asal Bogor ini memaparkan RSUD Fakfak bertipe C dengan alat kesehatan sesuai standar akreditasi danmemiliki empat dokter dasar. Antara lain dokter bedah, penyakit dalam, kandungan, dan anak. Bagi Amira, meski fasilitas belum sempurna tapi terbilang cukup lengkap.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Unair

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X