Selain kombinasi dua genre yang bertolak belakang dijadikan satu, yang membuat film ini semakin menarik adalah penggunaan bahasa Jawa Timuran yang kental.
Menurut Bayu, itu merupakan satu keunikan yang menjadi ciri khas dirinya dalam berkesenian.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Leader yang Tidak Efektif saat Bekerja dan Berakibat Merepotkan Diri Sendiri
“Untuk bahasa Jawa, karena kalau dari saya sendiri sebagai Bayu Skak, unique selling point-nya lebih pada karya yang memiliki value-value yang kedaerahan.
“Mungkin juga karena di awal-awal karirku, misalnya Yowis Ben, menggunakan bahasa Jawa. Begitu juga film ini.
“Tapi ke depannya, akan ada ide-ide film yang berbahasa lokal yang lain!” tegasnya. (Syanne Susita)