PejuangKantoran.com - Pernikahan anak orang terkaya di Asia, Anant Ambani dan Radhika Merchant, yang berlangsung pada 12 Juli lalu, masih terus dibicarakan.
Maklum, masih banyak detail yang belum dibahas dari pernikahan yang diperkirakan menghabiskan biaya 600 juta dollar atau sekitar Rp 9,7 triliun.
Saat ini ayah Anant, Mukesh Ambani, Chairman Reliance Industries, tercatat sebagai orang terkaya di Asia.
Baca Juga: 3 Alasan Mengapa Iri pada Orang Kaya Malah Bikin Kamu Tetap Miskin dan Merasa Tidak Mampu
Menurut Forbes, miliarder berusia 67 tahun itu memiliki kekayaan bersih sebesar 120,3 miliar dollar atau sekitar Rp1,9 kuadriliun (bilangan di atas triliun).
Dengan lebih dari 250 perusahaan yang dimiliki, tidak heran jika Mukesh Ambani menjadi orang terkaya di Asia. Namun, siapa keluarga terkaya kedua di Asia?
Keluarga Hartono
Tidak bisa dipungkiri bahwa Asia adalah rumah bagi beberapa keluarga terkaya di dunia, dengan kekayaan yang dibangun dari generasi ke generasi.
Keluarga-keluarga ini telah mendiversifikasi investasi mereka di berbagai sektor, termasuk energi, real estat, teknologi, dan keuangan.
Menurut Bloomberg, keluarga Hartono di Indonesia menempati peringkat kedua orang terkaya di Asia dengan kekayaan bersih 38,8 miliar dollar (sekitar Rp632 triliun).
Baca Juga: Mengenal Sosok Thomas Djiwandono, yang Baru Diangkat Jadi Wakil Menteri Keuangan oleh Jokowi
Peruntungan keluarga Hartono bermula dari Oei Wie Gwan, yang mengakuisisi produsen rokok kretek Indonesia, dan mengganti namanya menjadi Grup Djarum pada tahun 1951.
Setelah Oei Wie Gwan meninggal dunia, perusahaan diwariskan kepada kedua putranya, Michael Bambang Hartono (85) dan Robert Budi Hartono (83), pada tahun 1963.
Grup Djarum kemudian menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Sekarang ini Grup Djarumm dikelola oleh anak Budi, yaitu Victor Hartono (52).
Memanfaatkan kekayaan Djarum, kedua Hartono bersaudara itu mengakuisisi perusahaan investasi Bank Central Asia (BCA) yang kini menjadi sumber utama kekayaan mereka, seperti dilansir South China Morning Post.