Setelah Panglima GAM Abdullah Syafi'i tewas dalam pertempuran dengan prajurit Tentara Nasional Indonesia pada 2002, Mualem ditunjuk sebagai Panglima Komando Pusat GAM.
Mendirikan Partai Aceh
Peluang perdamaian antara GAM dan pemerintah Indonesia mulai terbuka usai bencana tsunami yang menghancurkan Aceh pada tahun 2004.
Muzakir Manaf menjadi salah satu tokoh kunci dalam proses negosiasi antara GAM dan pemerintah Indonesia. Upayanya berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005, yang mengakhiri konflik bersenjata di Aceh.
Usai perjanjian damai di Helsinki, Muzakir Manaf baru beralih ke dunia politik. Ia mendirikan Partai Aceh, yang menjadi wadah aspirasi mantan kombatan GAM. Karir politiknya pun makin moncer.
Baca Juga: Bupati Aceh Selatan Kepergok Lagi Umrah bersama Istri usai Nyatakan Tak Sanggup Atasi Bencana
Pada periode 2012-2017, Mualem menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh, mendampingi Gubernur Zaini Abdullah. Setelah jeda selama 8 tahun, ia kembali ke dunia politik setelah dilantik sebagai Gubernur Aceh untuk periode 2025-2030.
Sebagai pemimpin, Mualem dikenal tegas dan berani. Ia punya kedekatan emosional dengan masyarakat Aceh, khususnya mantan kombatan GAM.
Meski gaya kepemimpinan Mualem dianggap keras, masyarakat Aceh tetap menjadi pendukungnya yang setia.
Kepemimpinan Muzakir Manaf sudah teruji, kini masyarakat sangat bergantung pada gubernur dan wakilnya, Fadhlullah, untuk membawa mereka bangkit dari bencana banjir dan longsor di Sumatra ini.