PejuangKantoran.com - Viralitas lagu “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” di berbagai platform media sosial tidak hanya menjadi fenomena hiburan semata. Sejumlah pengamat dan psikolog menilai lagu tersebut menunjukkan bagaimana pesan yang diulang secara terus-menerus dapat memengaruhi cara otak membentuk persepsi terhadap seseorang.
Hal ini diungkap olej Psikolog Roslina Verauli dalam unggahannya di akun instagram resminya.
Dia menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah menerima informasi yang sering didengar atau dilihat berulang kali. Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dikenal sebagai mere exposure effect, yaitu kondisi ketika seseorang cenderung merasa lebih akrab dan lebih positif terhadap sesuatu hanya karena sering terpapar olehnya. Akibatnya, pengulangan pesan dalam bentuk lagu, slogan, atau konten viral berpotensi membentuk kesan tertentu di benak masyarakat.
Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” sendiri awalnya muncul sebagai konten yang bersifat jenaka dan ramai digunakan oleh warganet di media sosial. Lirik sederhana yang mudah diingat serta irama yang ringan membuat lagu tersebut cepat menyebar dan digunakan dalam berbagai unggahan video pendek. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya digital mampu mengubah sebuah frasa menjadi percakapan publik yang luas dalam waktu singkat.
Menurutnya, pengaruh lagu viral tidak selalu membuat seseorang langsung mengubah pandangan politik atau sosialnya. Namun, paparan yang berulang dapat menciptakan asosiasi positif tertentu terhadap figur yang disebutkan dalam lagu. Semakin sering nama seseorang muncul dalam konteks yang menyenangkan atau menghibur, semakin besar kemungkinan publik menyimpan kesan yang lebih familiar terhadap figur tersebut.
"Kalimat Mas Bahlil dalam lirik lagu viral itu selalu dikaitkan dengan ganteng, imut, lucu, positif. Bahkan rasanya kayak nggak threatening sama sekali," ucapnya. "Ketika suatu saat nanti kita mendengar kata Bahlil, entah lewat berita nasional atau media sosial, maka otak punya kecenderungan mengeluarkan lebih dulu asosiasi positif tentang Bahlil."
"Yang menarik, akronim MBG Makan Bergizi Gratis jadi akronim baru Mas Bahlil Ganteng. Jadi personal branding. Ada proses reakronimisasi di dalamnya,"
Pandangan serupa juga disampaikan sejumlah pengamat politik yang menilai fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” telah berkembang dari sekadar satire atau candaan internet menjadi bagian dari percakapan politik yang lebih luas. Mereka melihat popularitas lagu tersebut membuat nama Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, semakin sering muncul dalam ruang publik digital.
Baca Juga: 3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa persepsi publik terhadap tokoh tidak dibentuk oleh satu faktor saja. Kinerja, rekam jejak, pemberitaan media, pengalaman pribadi masyarakat, hingga dinamika politik tetap menjadi faktor utama dalam membentuk penilaian seseorang. Konten viral hanya menjadi salah satu elemen yang dapat memperkuat atau memperlemah kesan yang sudah ada.
Fenomena “MBG Mas Bahlil Ganteng” sekaligus menunjukkan besarnya kekuatan media sosial dalam membentuk narasi publik pada era digital. Sebuah lagu berdurasi singkat yang awalnya dibuat untuk hiburan dapat berkembang menjadi bahan diskusi mengenai psikologi massa, komunikasi politik, hingga cara kerja otak dalam memproses informasi yang terus-menerus muncul di hadapannya