3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 28 Mei 2026 | 18:55 WIB
Dari sisi dunia kerja, setidaknya ada tiga gaya kepemimpinan modern yang digambarkan di film The Devil Wears Prada 2. (IMDb)
Dari sisi dunia kerja, setidaknya ada tiga gaya kepemimpinan modern yang digambarkan di film The Devil Wears Prada 2. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Sejak dirilis pada 29 April lalu, film The Devil Wears Prada 2 ternyata masih bertahan di sejumlah bioskop jaringan XXI maupun CGV dan Cinepolis.

Film ini memang menghibur dari banyak segi. Bagi penikmat fashion, gaya Miranda Priestly (Meryl Streep) dan Andy Sachs (Anne Hathaway) benar-benar menyegarkan mata. 

Selain itu, gaya kepemimpinan Miranda yang otoriter dan cenderung mengintimidasi pun bukan dibuat-buat. Sebab, penulis novelnya, Lauren Weisberger, memang terinspirasi dari gaya Anna Wintour saat dirinya bekerja sebagai asisten pribadi pemimpin redaksi majalah Vogue itu.

Baca Juga: Pelajaran Karier dari The Devil Wears Prada 2: Dari Toxic Boss sampai Realita Dunia Kerja

Di atas itu semua, film ini sebenarnya merupakan pengamatan tajam tentang bagaimana seorang pemimpin bertahan di dunia kerja yang berubah sangat cepat. Dalam hal ini, bagaimana pendekatan strategis Miranda terhadap perubahan industri media dari cetak ke digital.

Jika kita melihat film ini dari sisi dunia kerja, setidaknya ada tiga gaya kepemimpinan modern yang digambarkan, yaitu:

1. Miranda Priestly, gaya command and control

Miranda masih menjadi "queen" di majalah Runway, tapi kerajaannya mulai goyah. Dia punya kekuasaan besar, tapi kaku banget. Dia tahu pasar sudah berubah, tapi secara emosional, dia masih terikat pada gaya kepemimpinan memerintah dan mengontrol yang selama ini sukses membangun kekayaannya.

Miranda adalah pengingat bahwa pengalaman 30 tahun bisa mengekang dirinya sendiri. Karena sudah terlalu lama menjadi orang terpintar di ruangan, dia jadi sulit meminta bantuan.

Dia berisiko ketinggalan zaman kalau nggak mau buru-buru menjembatani kesenjangan antara pengalamannya dengan realitas baru.

Baca Juga: Dutch Business Network Indonesia Buka Lowongan Kerja Operations & Communications Coordinator

2. Andy Sachs, paham politik dan strategi

Andy kembali tampil dengan membawa nilai-nilai pribadinya. Dia bukan lagi jurnalis yang naif, melainkan pemimpin yang paham dengan kekuatannya. Andy sebenarnya punya adaptabilitas tinggi, tapi sayangnya belum bisa menembus kekuasaan yang dimiliki Miranda.

Perjalanan Andy menunjukkan bahwa menjadi pemimpin itu adalah proses yang berliku. Dia membuktikan bahwa pintar saja nggak cukup. Di dunia korporat yang keras, kamu juga harus paham politik dan strategi untuk memenangkan posisi yang lebih kuat.

3. Emily Charlton, si oportunis yang ambisius

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X