PejuangKantoran.com - Sebagai aktor, Ibrahim Risyad dikenal produktif. Ia berperan di film Perempuan Bergaun Merah dan web series yang sedang tayang di We TV, Jodoh atau Bukan.
Ibrahim Risyad juga baru saja menyelesaikan syuting film Hati Suhita, produksi Starvision Plus. Selama bulan puasa nanti, aktor kelahiran Bandung, 20 Juli 1993, ini juga akan disibukkan dengan syuting film Galaksi bersama Bryan Domani dan Mawar de Jongh.
Meskipun produktif, Ibrahim Risyad tidak sembarang menerima tawaran main. Hanya tawaran yang memenuhi tiga kriteria ini yang akan ia terima. Pertama, jalan ceritanya menarik, dan diangkat dari kisah yang sudah populer sebelumnya.
Baca Juga: Jadi Perempuan Kesurupan, Michelle Joan Sampai Belajar tentang Ritual Pengusiran Setan
“Yang sudah pasti sih, ceritanya. Setiap pemain itu kan punya egonya masing-masing. Punya preferensi sendiri. Misalnya, cerita yang disuka seperti ini atau karakter yang disuka itu seperti ini.
"Hal paling mendasar adalah kita harus lihat ceritanya seperti apa. Terus karakter yang kita dapat seperti apa? Apakah sesuai dengan apa yang kita mau? Mulai dari hal sesimpel itulah cara saya menentukan untuk terlibat dalam satu produksi,” terang Ibrahim.
Pertimbangan kedua: Ibrahim akan merasa senang kalau lawan mainnya sudah ia kenal. Ia pun mengambil contoh mengapa ia mau mengambil tawaran berakting di film Hati Suhita.
"Pertama, cerita Hati Suhita sangat menarik. Dari novel best seller yang sebenarnya aku pun sudah sempat mendengar.
Banyak sekali penggemar dari novel tersebut yang suka menyamakan aku dengan satu karakter yang akhirnya diperankan sama Omar Daniel, sahabat aku," jelasnya.
Baca Juga: Acha Septriasa Anggap Kesempurnaan dalam Media Sosial Bikin Orang Sulit Merasa Cukup
Pertimbangan ketiga, pemilik nama lengkap Ibrahim Risyad Zulkarnain Wirahadikusumah ini akan menyimak skrip, nama-nama calon pemain lain, lalu membaca ceritanya. Kalau semua klop, ia langsung semangat.
Walaupun sampai sekarang selalu cocok dengan lawan-lawan mainnya, Ibrahim menjelaskan mengapa mempertimbangkan lawan main menjadi salah satu kriteria penting buatnya.
“Ya, itu harus dilihat karena kan kita syuting tidak cuma sehari atau dua hari ya. Syuting bisa dua minggu. Kadang sampai dua bulan,” katanya.
Menurutnya, kalau lawan main merasa tidak ada ketidakcocokan, hasilnya pasti tidak maksimal.
“Alhamdulilah-nya sih, sampai sekarang chemistry-nya selalu dapat dengan lawan lain. Belum pernah ada masalah,” tukas lulusan Fakultas Hukum Universitas Parahyangan, Bandung, ini.