PejuangKantoran.com - Perjalanan merintis karier sebagai aktor bukanlah jalan yang mulus bagi Jourdy Pranata. Sebelum namanya dikenal seperti sekarang, ia pernah gagal kasting karena pengikut di akun media sosial hanya sedikit.
Hal ini diakui Jourdy Pranata sempat membuat mentalnya down. Tetapi kemudian bintang Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji ini mengerti bahwa cara kerja industri memang sudah seperti itu.
“Iya, waktu itu gue dianggap sebelah mata karena follower gue masih 3000. Padahal, kalau gue bisa deliver karakter-nya, ya kenapa tidak? Cuma ya, yang namanya industri. Tidak bisa disalahin.
Baca Juga: Prof. Dr. Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Buka Praktik, Jadi Google Doodle Hari Ini
“Mereka mungkin ada perhitungan dari marketing-nya. Mereka butuh pemain yang bisa menjual. Jadi, gue berdamai saja sama hal seperti itu,” terang Jourdy Pranata, yang lahir 2 Januari 1994.
Kerap mengalami penolakan, Jourdy tidak patah semangat dan melihatnya justru sebagai masukan untuk memperbaiki citranya. Pelan-pelan ia memperbaiki media sosialnya dan berteman dengan teman-teman yang menunjang kariernya.
Prilly Latuconsina adalah salah satu orang yang, menurut Jourdy, berjasa dalam mengajarkan hal ini.
“Dia nggak pelit untuk share apa yang sudah ia lakukan, ngajarin apa saja yang perlu dikerjakan. ‘Jour, begini, ini itu.’ Dia menyebutkan pentingnya mempunyai media sosial untuk diri sendiri.
Baca Juga: Aghniny Haque Mimpi yang Sama Berulang-ulang Saat Syuting Kajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji
“Jangan takut dibilang dalam tanda kutip artis seleb (gram). Ya, karena bukan seperti itu. Kan, kita memang punya media (sosial) sendiri. Jadi banyaklah gue belajar dari orang-orang yang sudah sukses di atas gue!” tukasnya.
Tak hanya memperbaiki citra dirinya, Jourdy juga tak lelah untuk mengasah kemampuan aktingnya. Aktor yang juga sempat menjadi host program TV My Trip My Adventure ini sadar bahwa kemampuan aktingnya masih kurang.
Untuk memperdalam pengetahuannya tentang seni peran, Jourdy mendaftar di sekolah akting milik Paul Agusta dan Kiky Narendra. Kemudian, ia juga mendaftarkan diri di sekolah akting Ine Febriyanti.
“Mungkin, aku punya work ethic-nya karena pernah kerja sebagai kru film. Pernah lihat kerja film yang benar seperti apa. Tapi, karena aku tahu aku bodoh di part itu, kurang skill-nya, bagaimana cara untuk memperbaikinya?
“Ya udah, gue ikut kelas akting. Gue merintis karier sebagai aktor bukan karena gue ganteng atau famous, sehingga elo hire gue. Ya, tidak begitu,” jelas aktor yang mengawali karier sebagai asisten penata kostum di film Pertaruhan (2017) ini.