sosok

Ganjar Pranowo Soal Indonesia Batal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20: “Ini Konstitusi!”

Senin, 15 Mei 2023 | 12:29 WIB
Ganjar Pranowo buka suara soal dibatalkannya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20. (Twitter/ganjarpranowo)

Sudah merekomendasikan Indonesia sebagai co-host

Sebenarnya, saat itu ia sudah memberikan rekomendasi agar Indonesia cukup menjadi co-host, bukan tuan rumah utama Piala Dunia U-20. Namun, banyak pihak yang tidak menggubris usulnya tersebut.

Usul itu juga yang ia rekomendasikan untuk Piala Dunia Panjat Tebing 2023. Ganjar bercerita, Yenny Wahid selaku Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sempat menghubunginya untuk bertanya mengenai persoalan yang sama.

Bagaimana dengan keikutsertaan Israel dalam kompetisi tersebut?

“Dalam kasus panjat tebing, caranya sama. Co-host bisa nggak? Jika berat, dilobi agar Israel tidak ikut berkompetisi. Atau bicara dengan para tokoh,” ujarnya.

Dengan cara tersebut, akhirnya Piala Dunia Panjat Tebing 2023 bisa berjalan karena Israel diputuskan tidak ikut serta dalam kompetisi tersebut.

Tidak diperintah oleh partai

Saat dirinya menolak tim Israel main di Indonesia untuk Piala Dunia U-20, tidak sedikit yang menyebut bahwa sikapnya ini merupakan perintah dari partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Namun, Ganjar dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada perintah dan paksaan dari mana-mana, termasuk partainya.

“Jadi, saya diskusi pada saat itu, apa yang terjadi. Lalu, saya telepon Menlu, Ketua PSSI, Menko PMK, kami mendengar suara yang ada di rakyat sebelum semua keputusan itu diambil, lalu kita rapat bersama,” jelasnya.

Setelah mereka mendapatkan keputusan bersama, barulah ia menyuarakan hal tersebut. Jadi, pendapatnya ini merupakan keputusan bersama, yang sudah sesuai dengan konstitusi dan aturan negara.

Baca Juga: Bank Terkecil di Dunia, Cuma Punya Dua Karyawan

Menurutnya, jika suatu tokoh mengambil sikap, belum tentu itu merupakan perintah atasan atau top down. Karena apa yang dia lakukan dalam kasus ini adalah diskusi yang menjadi bagian dari proses bottom up.

Ini juga bukan sikapnya karena anti terhadap satu agama. Hal itu juga disampaikannya ke para pendeta yang bertemu dengannya.

“Jadi, seolah-olah ini berhubungan dengan agama, ada yang tadi dihubungkan dengan sikap partai, dan sebagainya. Padahal kita putuskan bareng-bareng waktu itu dalam diskusi itu,” ujar Ganjar. (Elga Windasari)

Halaman:

Tags

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB