Baca Juga: Mengenal Sigit Djokosoetono, CEO Bluebird yang Menyamar Jadi Supir Taksi Seharian
Membangun media baru ini, diakui oleh Hadi, bukannya tanpa perjuangan dan tantangan terutama di masa pandemi dua tahun yang lalu.
"Selama ini saya pikir privilese saya sebesar itu. Saya lakukan segala sesuatunya dengan benar. Ketika pandemi, kami tidak memecat karyawan meskipun perusahaan ini harus berjuang banget.
“Kayak, nggak apa-apa gue nggak ambil gaji. Gue kasih gaji anak-anak dari uang sendiri. At the end of the day, busyet! Pandemi lama ya. Suffer-nya sangat-sangat luar biasa," aku Hadi.
Namun, segala masalah dan tantangan yang dihadapi tetaplah tidak menghentikan visi Hadi dalam menciptakan media yang selalu terdepan menampilkan kreativitas terbaru dalam segala lini gaya hidup.
"Saya sadar saat membuka media ini omzet-nya mungkin 100 kali lipat lebih kecil dibanding media headline, tapi saya akan tetap melakukannya. Tidak semua orang (yang punya) privilese bisa dan mau melakukan sampai berdarah-darah seperti ini beberapa tahun, ya?
“Saya sudah melakukannya, tapi saya tetap mampu menarik minat karyawan, dan partner-partner kerjaan yang melihat lebih dari sekadar nilai uangnya,” kilahnya.
Baca Juga: Mundur dari PBB, Aldi Taher Mantap Nyaleg buat Partai Perindo, Tapi: Nggak Usah Pilih Saya!
Mengenai investasi, menurut Hadi perusahaannya baru satu kali setelah selama 10 tahun berdiri mengambil investasi beberapa bulan yang lalu.
“Awalnya, modal 50 persen diberikan orangtua, 50 persen sisanya saya pinjam. Saya merasa semesta mendukung saya karena usaha jerih payah saya itu tidak pernah mengkhianati hasil.
Selain akhirnya usahanya mendapatkan investasi, ia sendiri malah diajak secara pribadi oleh beberapa investor untuk menjadi co-investor. Investor mempercayai kemampuannya, apa yang sudah ia lalui bersama Manual Jakarta, dan meyakini bahwa dirinya memahami apa yang diperlukan bisnis kreatif seperti ini. (Syanne Susita)