Produk budaya ghetto
Pada usia tujuh tahun, setelah menghabiskan satu tahun tinggal di ghetto Kingston, Bob Marley kembali ke desanya dan menyatakan bahwa takdir barunya adalah menjadi penyanyi.
Menjelang remaja awal, Bob tinggal di Trench Town, Kingston, sebuah daerah kumuh yang sangat miskin. Saat itu dia dan teman-temannya, Bunny Livingston dan Peter Tosh, menghabiskan banyak waktu mendengarkan ritem dan blues di stasiun radio Amerika.
Mereka lalu membentuk band Wailing Wailers (kemudian disingkat menjadi Wailers) karena mereka adalah produk budaya ghetto.
Sebagai penganut Rastafarian, mereka menumbuhkan rambut gimbal dan mengisap ganja karena mereka percaya itu ramuan suci yang membawa pencerahan.
Mencapai ketenaran internasional
The Wailers lalu rekaman untuk label kecil Jamaika sepanjang 1960-an, di mana ska menjadi sound yang populer. Lirik Bob Marley berubah menjadi lebih spiritual, dan musik Jamaika sendiri berubah dari irama ska yang melenting menjadi irama rock yang lebih sensual.
Saat grup tersebut menandatangani kontrak dengan Island Records pada awal 1970-an, mereka menjadi populer di kalangan penonton internasional.
Meluncurkan serangkaian album bermuatan politik
Ketika Livingston dan Tosh keluar untuk bersolo karir, Bob menyewa sebuah band baru dan menjadi pusat perhatian sebagai penyanyi, penulis lagu, dan gitaris ritem.
Dia menghasilkan serangkaian album bermuatan politik yang mencerminkan kesadaran sosial dalam lirik-liriknya. Dia menulis tentang melonjaknya pengangguran, persediaan makanan yang dijatah, dan kekerasan politik yang meluas yang dia lihat di Jamaika.
Pada 1976, dua hari sebelum dia dijadwalkan untuk tampil dalam konser gratis "Smile Jamaica" yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan antara faksi politik yang bertikai, seorang pria bersenjata tak dikenal menyerang Bob dan rombongannya.
Baca Juga: Diwawancara TV Amerika, Agnes Monica Bilang Musik Jadi Satu-satunya Pelariannya
Meskipun peluru menyerempet Bob dan istrinya Rita Marley, mereka berhasil membuai 80.000 penonton saat keduanya naik ke panggung.
Peristiwa itu semakin menggembleng pandangan politik Bob Marley, dan menghasilkan album paling militan dalam karirnya.