PejuangKantoran.com - Sebagai seorang sutradara, passion sangat penting karena dari passion tercipta ciri khas atau karakter karya seseorang yang biasanya tidak bisa disetir atau diatur-atur.
Itu yang terjadi ketika Hanung Bramantyo dihubungi oleh salah satu BUMN untuk menggarap sebuah film. Hanung sempat ragu apakah ia bisa mengerjakan atau tidak, mengingat "film pesanan" selalu dianggap buruk.
Misalnya, penerima proyek ini kerap dianggap tidak punya profesionalitas karena hanya melihat misi uangnya saja.
Baca Juga: Bermain di The Parcel, Atiqah Hasiholan Lega karena Tak Perlu Jadi Pencuri Lagi
“Jujur, film Just Mom ini sebenarnya adalah 'film pesanan', proyek pemerintah. Pesanannya juga cukup spesifik," kata Hanung Bramantyo, saat konferensi pers film Just Mom di CGV fX, Jakarta, Rabu (2/8/2023).
"‘Buatkan film dan ceritanya, ini teman saya punya novel.’ Dalam hati saya, wah, sudah diatur nih!” akunya.
Namun, Hanung tidak langsung menolak. Ia lalu membaca novel Ibu dan Doa yang Hilang yang menjadi landasan kisah filmnya, dan menjajaki apakah pada kesempatan ini ia bisa memasukkan passion-nya sebagai sutradara.
Terlepas bahwa project ini awalnya merupakan proyek titipan, tetapi jika menarik dan bisa menyalurkan passion-nya, Hanung merasa tidak ada alasan untuk menolak.
“Setelah membaca novel Ibu dan Doa yang Hilang yang menceritakan keseharian sang penulis dengan ibunya, saya merasa kalau hanya memfilmkan keseharian ibu, tidak menarik," kata pemilik rumah produksi Dapur Film ini.
Tiba-tiba, ada kasus seorang ibu yang saking kesepiannya karena anak-anaknya pada sibuk, lalu mengambil ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) untuk dirawat di rumah.
Baca Juga: Luna Maya Kewalahan Mendalami Karakter Suzzanna: Marahnya Datar Banget, Susah Diikuti
Sebelum ibunya merawat ODGJ itu, anak-anaknya tidak pernah menelepon sang ibu. Tetapi, keadaan berubah ketika ibunya merawat ODGJ. Anak-anaknya hampir tiap jam menelepon.
"Buat saya, itu sangat ironis. Dari situ, saya langsung memutuskan untuk membuat film tentang hal itu. ODGJ itu menjadi trigger untuk mengingatkan si anak begitu pentingnya kita bonding bersama ibu,” jelas sutradara berusia 47 tahun ini.
Saat mengolah ide awal dari novel dan menemukan fakta di lapangan, Hanung mengabaikan bahwa proyek yang sedang dikerjakan merupakan proyek titipan.
Pada akhirnya, ia bisa memasukkan passion-nya sehingga ketika menyodorkan skenario garapannya, klien langsung menyambut dengan respons positif.