PejuangKantoran.com - Meski pandemi sudah dinyatakan berlalu, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ada lebih dari 1,4 juta kasus baru Covid-19 dan lebih dari 1.800 kematian tercatat di seluruh dunia dari 31 Juli – 27 Agustus 2023.
Pada Jumat (1/9/2023), WHO mengatakan bahwa terjadi peningkatan sebesar 38% dalam jumlah kasus, meskipun jumlah kematian menurun 50% dibandingkan periode 28 hari sebelumnya.
WHO menghubungkan peningkatan kasus baru Covid-19 ini dengan varian virus baru ‘Eris’, yang telah ditemukan sebanyak 26% pada pekan kedua Agustus. Selain itu, masih ada varian baru yang disebut ‘Priola’ yang juga menjadi biang kerok.
Seperti apa karakteristik masing-masing varian dan seberapa bahayanya kedua virus tersebut? Ini penjelasannya.
Baca Juga: Sambut PM Kepulauan Cook di Bandara, (Pj) Gubernur Banten AI Muktabar Sajikan Sop Buah
EG.5
Para ahli mengatakan EG.5 tidak menimbulkan ancaman besar, setidaknya tidak lebih dari satu varian utama lainnya yang beredar saat ini.
“Ada kekhawatiran bahwa jumlah virus ini akan meningkat, tetapi tampaknya tidak jauh berbeda dari apa yang telah beredar di Amerika Serikat selama 3 – 4 bulan terakhir,” kata Andrew Pekosz, profesor mikrobiologi molekuler dan imunologi di Johns Hopkins.
Menurutnya, itulah yang mengurangi kekhawatiran para ahli mengenai varian EG.5 pada saat ini.
Bahkan, WHO dalam pengumumannya mengatakan bahwa berdasarkan bukti yang ada, risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh EG.5 dinilai rendah di tingkat global.
Varian yang diidentifikasi di Tiongkok pada Februari 2023 dan pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat pada April ini, merupakan keturunan dari varian Omicron XBB.1.9.2.
Ini memiliki satu mutasi penting yang membantunya menghindari antibodi yang dikembangkan oleh sistem kekebalan sebagai respons terhadap varian dan vaksin sebelumnya.
Baca Juga: Jajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Menhub Budi Karya Sumadi Tiba dalam Waktu 50 Menit