Ini yang menjadi kemungkinan alasan EG.5 menjadi varian dominan di seluruh dunia dan salah satu alasan kasus Covid kembali meningkat.
“Mutasi tersebut bisa berarti semakin banyak orang yang rentan karena virus dapat lolos dari kekebalan tersebut," kata Dr. Andrew.
Namun, varian yang juga disebut ‘Eris’ ini tampaknya tidak memiliki kemampuan baru dalam hal penularan, gejala, atau kemungkinan menyebabkan penyakit parah.
Eric Topol, wakil presiden eksekutif Scripps Research di La Jolla, California, mengatakan bahwa meski tidak terlalu khawatir, tetapi ia akan merasa lebih tenang jika formulasi vaksin baru sudah tersedia.
Booster yang diperbarui dikembangkan berdasarkan varian lain yang secara genetik mirip dengan EG.5.
Diharapkan vaksin tersebut nantinya dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap EG.5 dibandingkan vaksin tahun lalu yang menargetkan jenis virus corona asli dan varian Omicron.
BA.2.86
Varian baru lainnya yang diawasi ketat oleh para ilmuwan adalah BA.2.86, yang dijuluki dengan ‘Pirola’.
Turunan dari varian Omicron ini dikaitkan dengan beberapa lusin kasus Covid di empat benua, yang diduga oleh ahli jauh lebih banyak lagi. Mereka sangat cemas dengan varian ini karena banyaknya mutasi yang dibawanya.
Baca Juga: Fresh Graduate Bisa Jawab Begini Kalau Ditanya Skill dan Pengalaman saat Wawancara Kerja
Salah satunya terdapat dalam protein lonjakan (spike protein) yang digunakan virus untuk menginfeksi sel manusia dan digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasinya.
Menurut Jesse Bloom, profesor di Pusat Kanker Fred Hutchinson yang berspesialisasi dalam evolusi virus, mutasi BA.2.86 memiliki evolusi yang ukurannya serupa dengan perubahan pada varian Omicron pertama, dibandingkan dengan strain virus corona asli.
Data yang dirilis pada 31 Agustus 2023 di X (Twitter) oleh para ilmuwan di Tiongkok, menunjukkan bahwa BA.2.86 sangat berbeda dari versi virus sebelumnya sehingga mudah lolos dari antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap infeksi sebelumnya.
Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa BA.2.86 mungkin kurang menular dibandingkan varian lainnya. Meskipun penelitian yang dilakukan pada sel di laboratorium tidak selalu sesuai dengan perilaku virus di dunia nyata.
Pada 1 September 2023, para ilmuwan di Swedia juga menerbitkan hasil penelitian yang lebih menggembirakan.