PejuangKantoran- Baru-baru ini, Erina Gudono, menantu Presiden Joko Widodo dan istri Kaesang Pangarep, menjadi sorotan media sosial karena isu Erina Gudono bau ketiak.
Hal ini bermula dari unggahan di X yang menyertakan gambar Erina Gudono saat masih menjadi Puteri Indonesia Yogyakarta sedang berpose bersama seorang anak kecil yang menutup hidungnya dengan buku.
Netizen pun langsung menebak-nebak apa yang terjadi, dan banyak yang menyebut Erina Gudono bau ketiak.
Baca Juga: Kemenkeu Buka Lowongan CPNS, Terbuka untuk Disabilitas dan Putra-Putri Daerah
Erina Gudono sendiri, seperti banyak orang lainnya, mungkin menghadapi tantangan terkait dengan masalah ini, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor pribadi dan kesehatan.
Bau ketiak, atau secara medis dikenal sebagai bromhidrosis, adalah masalah yang mempengaruhi banyak orang dan sering kali menjadi sumber ketidaknyamanan sosial.
Penyebab utama dari bau ketiak berhubungan dengan aktivitas bakteri di permukaan kulit, terutama di area yang kaya akan kelenjar keringat, seperti ketiak.
Penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa bau ketiak sering kali dihasilkan oleh interaksi antara keringat dan bakteri yang hidup di kulit.
Kelenjar keringat apokrin, yang terletak di area seperti ketiak dan area genital, menghasilkan keringat yang lebih kental dan berprotein dibandingkan dengan keringat ekrin yang diproduksi oleh kelenjar keringat di bagian lain tubuh.
Baca Juga: Bagaimana Cara Sebuah Negara Memilih Warna Paspornya?
Keringat apokrin ini sendiri tidak berbau, namun ketika bakteri yang ada di kulit memecah protein dalam keringat, bau tidak sedap dapat muncul.
Bakteri seperti Corynebacterium dan Staphylococcus adalah jenis bakteri yang umum ditemukan di kulit dan bertanggung jawab atas proses ini.