“Dalam menganalisis catatan personel Ctrip, kami menemukan hubungan yang sangat kuat antara tingkat polusi udara harian dan produktivitas pekerja,” jelas mereka.
Disebutkan, jika rata-rata terjadi peningkatan 10 unit dalam Indeks Kualitas Udara (AQI), maka akan ada penurunan 0,35% jumlah panggilan yang ditangani oleh pekerja Ctrip.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pekerja 5%–6% lebih produktif ketika tingkat polusi udara dinilai baik oleh Badan Perlindungan Lingkungan (AQI 0–50) dibandingkan ketika mereka dinilai tidak sehat (AQI 150–200).
“Sepengetahuan kami, penelitian kami adalah yang pertama mendokumentasikan dampak polusi udara pada pekerja kerah putih,” ujar Tom, Joshua, dan Tal.
Mengapa polusi udara bisa pengaruhi produktivitas?
Penjelasannya seperti ini. Materi partikulat yang terkandung dalam polusi udara, cukup kecil untuk diserap ke dalam aliran darah.
Materi tersebut bahkan mampu berjalan di sepanjang akson saraf penciuman dan trigeminal ke dalam sistem saraf pusat (SSP), yang membuatnya dapat tertanam jauh di dalam batang otak.
Pada gilirannya, hal ini dapat menyebabkan peradangan pada SSP, stres kortikal, dan kerusakan serebrovaskular.
Sementara itu, paparan partikel halus yang lebih besar dikaitkan dengan kecerdasan yang lebih rendah dan penurunan kinerja pada berbagai domain kognitif.
“Jika dampak negatif pada produktivitas yang kami temukan dalam penelitian kami adalah hasil dari penurunan fungsi kognitif, itu bisa berarti bahwa dampak negatif polusi pada produktivitas mungkin paling besar terjadi pada pekerjaan dengan keterampilan tinggi,” ujar mereka.
Baca Juga: Jangan Lupa Pakai Masker, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Pertama di Indonesia dan Ketiga di Dunia!
Apa yang harus dilakukan?
Untuk perusahaan yang memiliki banyak pekerja di dalam ruangan, memasang filter udara dapat memberikan manfaat yang mengejutkan. Filter udara HEPA disebut dapat menghilangkan banyak polusi yang menghambat produktivitas kerja.
Meskipun demikian, tidak jelas apakah filter udara dapat sepenuhnya menghilangkan polutan ini. Selain itu, hal ini juga tidak dapat menurunkan tingkat polusi yang dihadapi pekerjanya saat pulang.
Itulah mengapa Tom, Joshua, dan Tal menyebut bahwa polusi udara tidak mengenal batasan perusahaan atau politik.