PejuangKantoran.com - Kamu mungkin pernah melihatnya di dunia nyata: Seorang suami atau istri yang ditinggal pasangan untuk selamanya, tidak lama kemudian orang tersebut menyusulnya ke keabadian.
Ada yang bilang kalau orang yang ditinggal pasangan meninggal itu mengalami "sindrom patah hati" yang akhirnya membuat jantungnya benar-benar “patah” dan akhirnya merugikan kesehatannya.
Jika kamu pikir sindrom patah hati hanya sekadar sugesti, kamu salah besar. Kehilangan orang atau hewan peliharaan atau apa pun yang kamu cintai memang bisa sangat menghancurkan secara emosional.
Baca Juga: Air Minum dengan pH Tinggi Ternyata Punya Manfaat Tersendiri
Meski jarang terjadi, tetapi terkadang kehilangan yang luar biasa dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk juga jantung.
Untungnya, dokter dapat menangani sebagian besar kasus sindrom patah hati ini.
Respons jantung saat patah hati
Gejala sindrom patah hati, seperti sesak dada dan sesak napas, bisa tampak seperti serangan jantung.
Hal ini bisa terjadi ketika tekanan psikologis memicu kelemahan otot jantung secara tiba-tiba, yang biasanya disebabkan oleh syok mendadak atau kecemasan akut.
Dokter menyebutnya "kardiomiopati akibat stres" atau "kardiomiopati takotsubo".
Jantung memiliki misterinya sendiri, termasuk alasan mengapa tiba-tiba menjadi lemah karena tekanan fisik atau emosional.
Bisa jadi jawabannya karena tubuh dibanjiri hormon stres adrenalin yang terlalu banyak untuk ditangani. Satu teori menyatakan bahwa adrenalin menyebabkan arteri jantung menyempit sehingga menghentikan aliran darah ke otot.
Tidak seperti serangan jantung, sindrom patah hati membuat sebagian jantung membesar untuk sementara. Ini dapat mengubah cara jantung memompa, yang menyebabkan timbulnya gejala.
Baca Juga: Yang Terjadi pada Tubuh Ketika Kamu Hanya Makan Junk Food dalam Seminggu
Siapa yang bisa mengalaminya?
Itu bisa terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering pada perempuan daripada laki-laki, dengan rentang usia paruh baya atau lebih tua.