Studi CogFX, yang dilakukan oleh Harvard Healthy Buildings Program, bertujuan untuk memahami efek polusi udara dalam ruangan, termasuk PM2.5, terhadap kinerja kognitif.
Studi tersebut melibatkan pekerja kantoran dari Thailand, India, China, Amerika, Inggris, dan Meksiko, yang melakukan berbagai tugas kognitif di lingkungan kerja mereka.
Studi tersebut menemukan bahwa pekerja kantor berkinerja lebih buruk dalam 80% tugas kognitif ketika tingkat PM2.5 di atas 12 µg/m3.
“Dunia benar-benar fokus pada COVID-19, dan strategi seperti ventilasi dan filtrasi yang lebih baik adalah kunci untuk memperlambat penularan penyakit menular di dalam ruangan,” kata Dr. Joseph Allen, pendiri Harvard Healthy Buildings Institute di T.C. Sekolah Kesehatan Masyarakat Chan.
Padahal, Nafas menyebut bahwa menurut data Juli 2023, sebuah kantor di kawasan Kuningan, Jakarta, memiliki kualitas udara dalam ruangan selama jam kerja yang jauh melebihi ambang batas dari studi CogFX.
Paparan PM2.5 dapat mengurangi produktivitas karyawan
University of Southern California pada 2016 melakukan studi yang berfokus pada dampak PM2.5 terhadap produktivitas karyawan dan pengambilan keputusan di lingkungan pabrik.
Para peneliti mencoba mengidentifikasi penurunan kualitas udara di dalam fasilitas pengepakan buah pir mendorong pekerja untuk mendapatkan lebih sedikit uang.
Baca Juga: Waspadai Penyakit Paru Akibat Pajanan Asap Rokok dan Polusi Udara pada Kalangan Usia Produktif
Mereka menemukan bahwa setiap kali PM2.5 meningkat sebesar 10 µg/m3 di atas garis dasar 15 µg/m3, produktivitas akan turun sebesar 6%.
Jadi, jika kantor-kantor di Jakarta dengan angka angka PM2.5 mencapai 47 µg/m3 atau lebih dari tiga kali lipat dari dasar, maka kemungkinan produktivitas karyawan di daerah ini menurun sebanyak 18%.
Penurunan produktivitas karyawan bisa semakin tinggi di daerah-daerah yang memiliki angka PM2.5 tinggi, seperti Tangerang Selatan, Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok. (Elga Windasari)