PejuangKantoran.com – Kasus penipuan bisnis yang menimpa Tantri Kotak harusnya bisa membuat kita lebih waspada bagaimana menyikapi ajakan berbisnis dari orang dekat atau kenalan kita.
Berkaca sebagai Gen Z yang sering menerima side job-an selain pekerjaan utama kita, kasus Tantri juga bisa jadi kewaspadaan bagaimana kita harus bersikap kepada teman, keluarga, atau kenalan kita yang datang menawarkan kerja sampingan.
Utamanya untuk setiap ajakan side job dari rekan kantor atau teman tongkrongan dengan selalu memperlakukan proyek tersebut sebagai bisnis profesional, bukan sekedar proyek thank you. Kadang kedekatan emosional sering kali membuat kita sungkan, batasan yang tegas justru menjadi kunci penyelamat finansial dan reputasi Kamu.
Baca Juga: Nggak Apa-apa Banget Nggak Jadi Bos, Karyawan Gen Z Lebih Pilih Punya Banyak Side Hustle
Baca Juga: Kerja Sampingan Jadi “Mode Bertahan” Pekerja Indonesia
Baca Juga: 57 Persen Gen Z Punya Side Hustle, Tanda Anak Muda Tak Lagi Andalkan Satu Pekerjaan
Berikut adalah langkah kritis untuk mencermati ajakan side job dari lingkaran terdekat sebelum Anda memutuskan bergabung:
- Pisahkan Kedekatan Emosional dari Urusan Profesional
- Hindari sistem kekeluargaan. Tolak halus jika ajakan bisnis hanya didasari atas nama solidaritas atau pertemanan tanpa kejelasan sistem kerja.
- Kritisi kapasitas teman. Pastikan rekan kantor atau teman Anda memang memiliki keahlian di bidang yang ia tawarkan, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
- Singkirkan rasa sungkan. Jangan ragu menolak dari awal jika Anda merasa skema kerjanya mencurigakan atau mengganggu fokus pekerjaan utama Anda.
- Bedah Legalitas dan Kejelasan Proyek (Due Diligence)
- Minta proposal transparan. Tuntut rincian lini masa kerja, modal yang dibutuhkan, target klien, dan bagaimana alur keuntungan akan dihasilkan.
- Verifikasi pihak ketiga. Jika side job ini melibatkan proyek dari luar, pastikan perusahaan atau klien tersebut nyata dan bukan fiktif.
- Cek regulasi kantor. Pastikan pekerjaan sampingan ini tidak melanggar aturan internal perusahaan tempat Kamu bekerja (conflict of interest) yang bisa mengancam karier utama Kamu.
- Wajibkan Perjanjian Tertulis (Hitam di Atas Putih)
- Buat kontrak kerja resmi. Jangan pernah memulai proyek hanya bermodalkan kesepakatan lisan atau ruang obrolan grup WhatsApp.
- Perjelas hak dan kewajiban. Tuliskan secara rinci porsi kerja masing-masing, batas waktu pengerjaan (deadline), dan nominal bayaran secara spesifik.
- Atur klausul pembatalan. Pastikan ada aturan tegas mengenai denda atau konsekuensi hukum jika salah satu pihak kabur atau gagal menyelesaikan tugasnya.
- Amankan Alur dan Akses Keuangan
- Gunakan rekening khusus. Jangan gabungkan uang modal atau operasional proyek ke dalam rekening pribadi milik salah satu orang.
- Transparansi pembukuan. Buat pencatatan digital yang bisa diakses bersama untuk setiap rupiah yang masuk maupun keluar secara berkala.
- Hindari sistem talangan. Jangan bersedia menalangi modal proyek menggunakan uang pribadi Anda terlebih dahulu tanpa jaminan tertulis yang sah.