8 Langkah Untuk Meningkatkan Self-Driven Untuk Diri Sendiri Karena Karakter Ini Bukan Bawaan Bayi!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Senin, 10 Agustus 2026 | 17:20 WIB
Membiasakan diri untuk memberikan solusi dan alasannya tanpa diminta, ketika menghadapi kendala adalah salah satu cara meningkatkan self-driven. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Membiasakan diri untuk memberikan solusi dan alasannya tanpa diminta, ketika menghadapi kendala adalah salah satu cara meningkatkan self-driven. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Saat ini, bagi sebagai besar pekerjaan, seseorang yang punya self-driven, sangat dibutuhkan. Apalagi model kerja seperti hybrid atau remote, pekerjaan project-based teams, dan cross function teams membutuhkannya.

Self-driven adalah ketika seseorang punya dorongan internal untuk bertindak, mencapai tujuan, belajar, dan mengoreksi diri tanpa harus terus menerus diingatkan, didorong, diperintah, dan diawasi oleh orang lain atau atasan.

Intinya, karakter ini menjadi personal competency yang sangat berharga karena tuntutannya, seseorang tak sekadar menjadi pelaksana saja, namun  juga harus bisa menjadi problem solver dan owner atas pekerjaannya.

Self-driven itu bukan berarti kerja habis-habisan, namun ia harus mampu menjalankan tugasnya secara strategis dan efisien. Ia juga orang yang terbuka terhadap masukan meskipun punya otonomi dalam tugasnya.

Seorang yang self-driven itu punya inisiatif, berorientasi pada tujuan, sangat termotivasi dari dalam diri, persisten, punya sense of ownership atas pekerjaannya, mandiri dalam belajar, dan punya self-management yang baik.

Baca Juga: Orang yang Self-Driven Dibutuhkan Saat Ini Terutama Untuk Pekerjaan Tertentu Seperti Berikut Ini!

Self-driven ini dibutuhkan dalam semua pekerjaan, namun dalam level yang berbeda. Ada yang butuh full self-driven seperti enterpreuner, sales, konsultan, freelancer, dan sebagainya. Ada yang sifatnya terbatas, seperti operator produksi, teknisi tertentu, quality control, dan sebagainya.

Self-driven itu bukan bawaan bayi, ia bisa dibentuk dan dibangun, dan agar bisa efektif musti harus ada dorongan dari diri sendiri terlebih dulu.

Berikut cara meningkatkan self-driven kamu:

  1. Mulai dengan tujuan yang konkret

Wajib tahu apa yang ingin dicapai. Tujuan yang konkret memberi otak arah tindakan, bukan sekadar keinginan.

Misal, alih-alih menetapkan: “Saya ingin berkembang.” Lebih tepat menetapkan hal yang spesifik:  “Dalam tiga bulan saya ingin menguasai kemampuan X dan menghasilkan Y.”

  1. Biasakan bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Ini latihan yang paling sederhana untuk membangun self-driven. Dalam menghadapi situasi tertentu, jangan langsung bertanya “Saya harus melakukan apa?” Coba ganti dengan: “Apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk membuat situasi ini lebih baik?”

Baca Juga: 7 Cara Jadi Karyawan yang Punya Inisiatif di Kantor, Salah Satu Soft Skill yang Jarang Dimiliki Karyawan

  1. Latih inisiatif kecil setiap hari

Self-driven terbentuk dari perilaku berulang, bukan dari motivasi sesaat. Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang besar, lakukan Inisiatif kecil yang konsisten, ia akan membentuk pola perilaku proaktif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X