Pejuangkantoran.com – "Survival of the fittest" atau terjemhannya kurng lebih "Yang bisa bertahan hanyalah yang adaptif terhadap lingkungan."
Istilah ini dicetuskan oleh filsuf, sosiolog, psikolog, dan pemikir politik Inggris, Herbert Spencer, dalam bukunya The Principles of Biology. Spencer mencetuskan istilah ini setelah membaca teori evolusi Charles Darwin.
Spencer memandang masyarakat seperti organisme hidup, di mana berbagai institusi memiliki fungsi yang saling bergantung. Dan, hal ini menjadi sangat relevan dengan dunia kerja saat ini yang perkembangan dan perubahannya begitu cepat.
Teknologi, terutama teknologi AI (artificial intelligence) boleh dibilang “mengambil alih” sebagian peran manusia sehingga bisa “mengancam” peran manusia. Oleh karena itu, kita wajib beradaptasi dengan perubahan-perubahan ini agar tetap punya peran dalam kehidupan.
Salah satunya adalah dengan prinsip continuous learning. Ini adalah proses belajar yang berlangsung secara berkelanjutan sepanjang karier seseorang.
Tujuannya dalah adalah agar seseorang itu terus memperoleh, memperbarui, dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta kompetensi agar tetap relevan dengan perubahan pekerjaan, teknologi, dan kebutuhan organisasi.
Baca Juga: 4 Faktor Utama yang Mendorong Wajib Continuous Learning Dalam Dunia Kerja
Meningkatkan continuous learning bukan sekadar mengikuti pelatihan atau mengumpulkan sertifikat. Continuous learning merupakan kombinasi antara mindset, kebiasaan, lingkungan, dan praktik refleksi yang dilakukan secara konsisten.
Ada sejumlah cara untuk meningkatkan continuous learning, yaitu:
- Mengembangkan growth mindset
Penelitian Carol S. Dweck menunjukkan bahwa individu dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, strategi, dan pembelajaran.
Orang dengan growth mindset cenderung tidak takut gagal, melihat kesalahan sebagai umpan balik, berani mencoba tantangan baru, dan lebih gigih ketika menghadapi kesulitan
- Menetapkan learning goals, bukan hanya performance goals
Penelitian menunjukkan bahwa learning goal orientation menghasilkan pembelajaran jangka panjang yang lebih baik dibanding hanya mengejar performa. Misal, jika performance goal: “Saya ingin mendapat promosi”, maka learning goals-nya adalah “Saya ingin menguasai project management dan stakeholder communication”.
Dalam sejumlah penelitian, tujuan belajar akan meningkatkan eksplorasi, kreativitas, dan adaptasi.
- Menerapkan reflective practice
Pembelajaran terjadi ketika seseorang secara sadar merefleksikan pengalamannya. Misal, setelah menyelesaikan proyek, tanyakan: “Apa yang berjalan baik?”, “Apa yang gagal?”, “Mengapa gagal?”, dan sebagainya.
Artikel Terkait
Feedback Karyawan Tidak Selalu Akurat, tapi Apa Jadinya Jika Mereka Berhenti Memberikan Feedback?
Kemampuan Fast Learning Jadi Kunci Sukses di Dunia Kerja yang Selalu Berubah. Tahu Kenapa?
4 Langkah Agar Sukses Mencari Pekerjaan di Era Artificial Intteligence atau AI
Cara Meminta Feedback pada Rekruter setelah Menerima Surat Pernyataan Tidak Diterima Bekerja
10 Pendekatan yang Efektif Agar Growth Mindset Bisa Menjadi Budaya Kerja Karyawan