Pejuangkantoran.com – Pernahkah kamu saat mengerjakan suatu tugas atau proyek, seperti dilepas begitu saja sama atasan? Rasanya kayak baru belajar renang tapi sudah “diceburin” ke kolam arus.
Pola seperti ini tidak berarti salah. Karena dengan pekerjaan model hybrid atau remote, apalagi yang project-based teams dan cross-functional teams yang makin banyak dilakukan saat ini, pola kerja “nyeburin” seperti ini menjadi umum.
Pola kerja model “nyeburin” seperti ini menuntut self-driven yang tinggi.
Self-driven adalah karakter seseorang yang memiliki dorongan internal untuk bertindak, mencapai tujuan, belajar, dan memperbaiki diri tanpa harus terus-menerus didorong, diawasi, atau diperintah oleh orang lain.
Artinya, seseorang dengan self-driven tahu apa yang harus dilakukan, punya alasan untuk melakukannya, dan bergerak tanpa harus slelau disuruh.
“Diceburin” dalam hal ini bukan berarti atasan lepas tanggung jawab. Atasan tetap memberikan gambaran besar dan tujuan atau target, lalu memberikan keleluasan kepada anggota tim dalam menjalaninya untuk mencapai tujuan atau target.
Self-driven merupakan personal competency yang sangat berharga. Ini karena dunia kerja saat ini semakin menuntut pekerja untuk tidak sekadar menjadi task executor, tetapi juga mampu menjadi problem solver dan owner atas pekerjaannya.
Self driven bukan berarti selalu kerja habis-habisan. Karena seorang self-driven akan bekerja secara strategis dan efisien karena dia mampu menentukan sendiri apa yang penting dan apa yang tidak.
Ia mampu membuat prioritas berdasarkan gambaran besar dan target atau tujuan.
Seorang dengan self-driven juga bukan orang yang keras kepala, meskipun dia punya otonomi dalam tugasnya. Orang self-driven tetap bisa menerima kritik, mengubah strategi, meminta bantuan, dan mengikuti keputusan tim.
Yang membedakan adalah inisiatif dan dorongan untuk bertindak berasal dari dirinya sendiri.
Ciri-ciri orang yang self-driven:
- Punya inisiatif
- Tidak selalu menunggu instruksi.
- Melihat masalah lalu mencari cara untuk menyelesaikannya.
- Misalnya, ketika pekerjaan belum jelas, ia mencari informasi atau bertanya secara proaktif.
- Berorientasi pada tujuan
- Memiliki target yang ingin dicapai.
- Mampu menentukan prioritas dan langkah untuk mencapainya.
- Motivasi berasal dari dalam diri
- Tetap bekerja meskipun tidak ada atasan yang mengawasi.
- Tidak hanya bekerja karena takut mendapat teguran atau karena ada bonus.
Baca Juga: 4 Faktor Utama yang Mendorong Wajib Continuous Learning Dalam Dunia Kerja