1 dari 3 Lowongan Kerja Ternyata Palsu! Ini Alasan Mengapa Perusahaan Mengiklankan Ghost Job

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 30 Juli 2026 | 19:03 WIB
Ilustrasi: Satu dari tiga lowongan kerja ternyata palsu! (Freepik/Rawpixel)
Ilustrasi: Satu dari tiga lowongan kerja ternyata palsu! (Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.com - Sejak terkena PHK, mungkin kamu sudah menyebarkan puluhan lamaran pekerjaan dalam sebulan. Namun berapa banyak yang merespons lamaranmu? Kalaupun ada, biasanya itu baru tahap penyaringan awal.

Wajar kalau kamu mulai berpikir, apa yang salah sama CV yang sudah kamu susun dengan susah payah? Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan CV kamu. Faktanya, yang bermasalah justru lowongan kerjanya.

Tahun 2026 ini, fenomena ghost job alias lowongan kerja palsu makin parah. Data LinkedIn menyebut hampir 30% lowongan kerja aktif di AS sebenarnya terindikasi ghost job. Jadi, posisi dibuka tapi sebenarnya tidak ada niat betulan untuk merekrut orang dalam waktu dekat.

Baca Juga: Banyak Pelamar Merasa Digantung, LinkedIn Kini Diselidiki soal Ghost Jobs

Bahkan, laporan survei dari ResumeBuilder mencatat angkanya bisa mendekati 40%.

Pemerintah AS juga mencatat ada selisih hingga 2,1 juta antara jumlah lowongan yang dibuka dengan realisasi orang yang benar-benar diterima kerja. Celah yang begitu besar ini bukan angka secara acak, tapi bukti kalau pasar kerja sekarang memang lagi nggak sehat.

Mengapa ada ghost job?

Yang dimaksud ghost job itu lowongan kerja yang dipublikasikan secara resmi, padahal perusahaannya sama sekali tidak berencana merekrut orang baru dalam waktu dekat.

Survei tahun 2024 dari ResumeBuilder terhadap 649 manajer rekrutmen mencatat berbagai alasan di balik maraknya lowongan kerja palsu ini, yaitu: 

• 43% demi pencitraan pertumbuhan perusahaan. Mereka ingin investor, pesaing, dan karyawannya sendiri percaya kalau bisnis mereka sedang berkembang pesat.

Baca Juga: Selain Alejandro Garnacho, Ini Skuad Aston Villa yang Siap Hadapi Indonesia All Stars di Jakarta

• 62% agar karyawan merasa pekerjaan mereka akan digantikan. Teorinya, kalau karyawan melihat posisi mereka diiklankan secara terbuka, mereka bakal bekerja lebih keras dan tidak banyak menuntut.

• 38% sekadar menjaga eksistensi di job board agar nama perusahaan tetap dikenal, meskipun sebenarnya tidak ada posisi yang kosong.

• 36% cuma buat cek ombak untuk menguji seberapa efektif iklan loker mereka, tanpa ada niat benar-benar merekrut orang.

• 26% mengumpulkan informasi dari kompetitor, untuk melihat siapa saja yang melamar, dari perusahaan mana, dan berapa ekspektasi gaji mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Linkedin, Fortune, Resume Builder

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X